
Keuskupan Chilaw di Sri Lanka barat tengah mengembangkan bakat jurnalistik orang muda dan menyoroti isu-isu sosial saat ini melalui tabloid yang diproduksi secara lokal dan yang dibuat dalam tiga bahasa.
Tabloid triwulanan setebal 16-halaman itu bernama Yowun Siwdisa (orang muda dari empat dekenat keuskupan) itu diterbitkan oleh Federasi Orang Muda Katolik Keuskupan Chilaw.
Dengan artikel-artikel yang ditulis dalam bahasa Sinhala, Tamil, dan Inggris, tabloid itu merupakan satu-satunya media keuskupan yang terbit dalam tiga bahasa di Sri Lanka.
Orang muda menulis tentang masalah dan isu-isu yang mempengaruhi mereka dan komunitas setempat seperti bahaya narkoba dan kecanduan alkohol, pelecehan seksual, serta pengangguran, kesehatan, dan politik.
“Orang muda dewasa ini tidak siap untuk menghadapi tantangan masa depan, sehingga tabloid ini menjadi media yang baik untuk mempersiapkan mereka menghadapi berbagai tantangan ini,” kata Pastor Anura Gamlath, 32, pelindung tabloid itu dan direktur Kerasulan Orang Muda Katolik Keuskupan Chilaw. “Melalui kertas Anda dapat mendengar suara orang muda kita dan berbagai tantangan mereka,” katanya.
Menurutnya, tujuan Yowun Siwdisa adalah untuk lebih menyadarkan orang muda akan dunia mereka dan bahaya yang mereka hadapi, serta menyediakan platform bagi mereka untuk mengekspresikan ide mereka.
Sameera Srimal, 21, yang memimpin tim redaksi dengan delapan staf, mengatakan, tabloid itu pertama kali diterbitkan tahun 2006. Penampilan dan kualitasnya semakin baik berkat bimbingan Pastor Gamlath.
“Kami berusaha untuk mengalihkan perhatian orang muda dari yang buruk kepada yang baik,” kata Srimal.
Saat ini, sekitar 3.000 eksemplar diproduksi untuk dijual di keuskupan dan kopian tambahan untuk didistribusikan kepada keuskupan-keuskupan tetangga.
Keuangan berasal dari penjualan dan beberapa iklan.
Tabloid ini tidak untuk mencari keuntungan, karena kami hanya menjual Rs.25 ($ 0,20) per eksemplar dan penulis tidak dibayar. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi orang muda. Mereka akan tetap menulis, karena bersemangat, bukan karena honor, kata Pastor Gamlath.
Para penulis muda diundang untuk mengikuti lokakarya penulisan dari waktu ke waktu, dan dari sinilah mereka mendapat keterampilan jurnalistik dari para pakar, tambahnya.
Meskipun target Yowun Siwdisa adalah orang muda Katolik, isi tabloid ini berisi informasi untuk segenap umat Katolik, lanjut Pastor Gamlath.
“Kami selalu berusaha untuk fokus pada kejadian saat ini dan kami mencoba untuk mendapatkan pakar yang kompeten di berbagai bidang untuk menulis dalam tabloid ini.”
Mudith Kavinjya, seorang pembaca berusia 19 tahun, mengatakan bahwa tabloid ini “sangat menarik dan mendidik. Saya berharap tabloid ini turut mempersiapkan saya untuk masa depan,” katanya.