
Kekerasan yang sering terjadi di Indonesia merupakan ancaman serius bagi pluralisme di negara ini, demikian peringatan para tokoh Katolik dan Muslim di Jakarta.
“Kekerasan tidak hanya akibat situasi ekonomi. Penyebab utamanya adalah bahwa orang-orang sudah kehilangan kesejatian hidup…dan [ini] memaksa mereka untuk memilih kekerasan sebagai solusi,” kata Pastor Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI.
“Kekerasan menjadi suatu yang spiral, maka tugas pemerintah untuk memutuskan spiral itu. Namun kenyataan negara diam, silent state,” kata Pastor Benny pada seminar Pluralisme Dalam Ancaman Kekerasan yang diselenggarakan Gerakan Peduli Pluralisme (GPP) di Jakarta pada 29 April.
Menurut sekretaris Setara Institute for Democracy and Peace ini tercatat 200 kasus kekerasan melanggar kebebasan beragama pada tahun 2009 dan kebanyakan terjadi di Jawa Barat.
Masalahnya adalah negara sudah kehilangan kekuasaan dan tidak bisa mencegah kekerasan seperti itu, tambahnya.
Dia menegaskan bahwa “kita harus berdialog dengan kelompok radikal dan fundamentalis’ untuk tercapainya pluralisme.
Menurut Slamet Effendi Yusuf, ketua Nahdlatul Ulama (NU), kekerasan terjadi bukan hanya karena kesalahpahaman tapi ketidakadilan ekonomi dan politik. “Jika kita ingin mempertahankan pluralisme, pertama kita harus menegakkan keadilan,” katanya kepada peserta yang hadir pada seminar tersebut.
Dia mengatakan NU tetap berkomitmen mendukung pluralisme.
Dia setuju dengan Pastor Benny bahwa dialog antara kelompok agama, terutama mereka yang pemahaman akan pluralismenya masih sedikit, sangat diperlukan.
Jalaludin Rahmat, dosen di Universitas Indonesia, juga mengatakan bahwa kekerasan terjadi karena adanya dukungan finansial dari kelompok yang anti pluralisme.