UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Guru Katolik dituntut memiliki spiritualitas sebagai pendidik

Mei 5, 2010

Guru Katolik dituntut memiliki spiritualitas sebagai pendidik

Frederik Ray Popo, siswa SMP Kanisius, mengakui bahwa guru punya pengaruh sangat besar terhadap murid

Para guru Katolik dituntut untuk memiliki spiritualitas sehingga dapat melihat profesi mengajar sebagai suatu panggilan untuk melayani Gereja, sekolah, dan siswa.

Guru perlu memupuk spiritualitas di tengah-tengah lingkungan profesi yang mulai mengedepankan uang.

“Spiritualitas guru Katolik sangat penting,” kata Pastor Carolus Jande, ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), dalam seminar di Kolese Kanisius, Jakarta, 2 Mei lalu.

Acara dengan tema Spiritualitas Sang Guru Sang Peziarah: Mendalami Spiritualitas Guru dan Pendidikan Kristiani, diadakan oleh Percetakan dan Toko Buku OBOR untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Sekitar 200 peserta, kebanyakan guru-guru dari Keuskupan Agung Jakarta, hadir pada acara tersebut.

Pastor Jande menekankan peran guru Katolik sebagai tokoh sentral dalam menentukan mutu sekolah Katolik.

Spiritualitas yang berpijak pada Yesus Sang Guru mestinya menjadi hal utama bagi para guru sehingga mampu mewariskan nilai-nilai iman di sekolah-sekolah Katolik.

Saat ini ada empat pengelola utama sekolah Katolik, yakni keuskupan, tarekat, paroki, dan awam Katolik.

Namun dia mengeritik pengelola sekolah, terutama awam Katolik, yang lebih mengutamakan ekonomi ketimbang spiritualitas.

Dia juga turut prihatin dengan adanya orang-orang yang menjadi guru hanya karena tidak diterima di bidang lain. Sekolah Katolik harus menerima orang yang merasa terpanggil dan motivasi menjadi guru.

Pastor Markus Wanandi SJ, ketua Komisi Pendidikan KAJ, mengatakan sekolah-sekolah Katolik sangat memerlukan guru yang sungguh melayani dengan hati.

“Guru jangan memikirkan soal gaji atau utang saja …tapi juga siswa dengan menanamkan nilai-nilai yang baik,” katanya.

Yulia Sri Prihartini, pembicara dari SMP Negeri di Yogyakarta, mengatakan menjadi guru tidak hanya sekedar mengajar (teaching) tapi juga mendidik (educating). Guru harus menggunakan cinta dan hati agar bisa menyentuh hidup siswa, katanya.

Sementara Frederik Ray Popo, siswa SMP Kanisius, mengakui kalau guru-guru memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap murid.

”Guru yang didambakan oleh para murid adalah guru yang mau mengabdi dan mempunyai perhatian kepada siswanya,” lanjutnya.

UCA News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi