
Status perempuan dalam masyarakat telah membaik dalam dekade terakhir. Mereka berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan yang baik, dan menikmati tingkat kebebasan yang tinggi. Jumlah perempuan yang memilih untuk tidak menikah meningkat. Perempuan menikah yang memiliki anak merasa terbebani dengan tanggung jawab merawat rumah tangga dan keluarga, serta perjuangan menghadapi karier mereka. Kekerasan dalam rumah tangga sudah biasa, namun ini didiamkan untuk “menyelamatkan muka” sesuai budaya Konfusianisme.
Di sisi lain, ada banyak perempuan yang bermigrasi ke Asia Timur dari negara-negara Asia yang miskin untuk bekerja sebagai PRT, penjaga toko dengan upah rendah, atau menjadi istri laki-laki asing. Kehidupan mereka sering ditandai dengan eksploitasi dan kekerasan.
Mereka menyesali status sekunder mereka dalam Gereja. Mereka merasa Gereja tidak mencerminkan kepemimpinan Yesus sebagai hamba. Mereka menyesal bahwa kepemimpinan laki-laki itu enggan untuk mengakui kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan di dalam Gereja sebagai akibat dari penyalahgunaan seksual dan pembagian kekuasaan yang tidak merata. Mereka kecewa bahwa Gereja hanya meminta maaf atas kesalahan tetapi tidak mengoreksinya.
Hal ini terungkap dalam sharing dari kaum perempuan asal Hong Kong, Jepang, Korea, Makau, dan Taiwan, di hadapan lima uskup, dan beberapa imam, dalam BILA (Bishops ‘Institute of Lay Apostolate) II Asia Timur tentang Perempuan. Pertemuan ini berlangsung di Touyuan , Taiwan, pada 3-7 Mei. Yang direfleksikan dalam pertemuan itu adalah “Bunda Maria, perempuan untuk zaman kita” (Mary Truly a Woman for our Times).
Citra Maria dilihat dari delapan aspek yang berhubungan dengan kehidupan perempuan dewasa ini: Maria yang muda; Maria yang bepergian; Maria yang hamil; Maria yang dieksploitasi dan sebagai pengungsi; Maria sebagai perempuan yang menikah; Maria sebagai perempuan dalam pesta; Maria sebagai ibu yang putranya menjadi korban; dan Maria murid yang penuh doa. “Selain membuka mata kita terhadap perempuan dewasa ini, Maria juga membuka mata kita untuk membawa Kabar Gembira bagi kaum perempuan agar mereka dapat mengalami kekuatan dari Yesus, putranya. Ini akan menjadi karya evangelisasi kita,” kata Uskup Imus, Filipina, Mgr Luis Tagle.
Ketika beregleksi tentang Maria, beberapa isu diangkat. Peserta menegaskan bahwa Magnificat Maria dewasa ini akan mengecam keserakahan, nilai-nilai materialistis, egoisme, ketidaksetiaan, kekerasan terhadap perempuan, terhadap semua orang lemah dan luka dalam masyarakat dan lingkungan.
Dalam pernyataan akhir pertemuan itu, sejumlah tantangan penting untuk Gereja di Asia Timur diutarakan:
i. Menciptakan kesetaraan dan saling menghormati dalam hubungan laki-laki dan perempuan, dalam Gereja, yang mempengaruhi cara mereka berhubungan satu sama lain dalam kehidupan.
ii. Meneliti alasan mengapa perempuan di Asia Timur memilih tidak menikah dan memulai sebuah keluarga.
iii. Memberdayakan perempuan pribumi yang menikah, memiliki anak, hidup dalam kemiskinan, dan menderita karena kekerasan dalam rumah tangga.
iv. Mendukung korban pelecehan seksual, serta menciptakan kesadaran tentang seksualitas di dalam Gereja baik untuk laki-laki maupun perempuan.
v. Mengutuk perjudian, kekerasan terhadap perempuan, penganiayaan terhadap pekerja asing, dan nafsu akan kenikmatan yang tak terpuaskan.
vi. Memulihkan kesakralan tubuh dan seksualitas perempuan dari kemerosotan dalam kebudayaan populer.
vii. Mendukung perempuan imigran asing dan suami asing mereka dalam usaha mereka untuk berbaur dalam masyarakat lokal dan paroki.
viii. Meningkatkan kesadaran akan isu-isu perempuan melalui Komunitas Basis Gerejani.
Perempuan prihatin atas budaya diam yang menyembunyikan pelecehan seksual terhadap perempuan “di bawah karpet” dalam Gereja Asia. Kami merasa, sekaranglah saatnya bagi perempuan korban kekerasan untuk bicara sehingga mereka dapat mengalami penyembuhan dan bisa meninggalkan pengalaman traumatis mereka.
Magnificat Maria bergema selama rapat. Peserta dikuatkan dengan nyanyian Magnificat Maria yang menggerakkan mereka untuk bertindak, yang membuat mereka merasa yakin bahwa peristiwa besar akan terjadi “karena tahu bahwa Allah melakukan hal-hal besar bagi kami.”
-Oleh Virginia Saldanha, UCA News, Asia
Virginia Saldanha adalah mantan sekretaris eksekutif Kantor Keluarga dan Umat Awam dari FABC