
Enam tahun setelah dibuka, satu-satunya pusat pastoral Katolik di Nepal itu digunakan juga sebagai seminari, gereja, dan panti bagi pengidap HIV/AIDS.
Pusat Pastoral St. Yohanes Vianney di bagian tenggara Kathmandu itu dimulai pada Mei 2004 dengan hanya dua bangunan.
Kini, pusat itu memiliki sebuah biara, klinik, pelayanan penitipan anak, dan tempat penampungan bagi perempuan dan anak-anak yang terkena HIV/AIDS.
“Kami ingin klinik ini menjadi sebuah klinik yang mobile dan kami juga telah mengembangkan pusat penitipan anak di dua tempat lain di desa-desa,” kata Pastor Pius Perumana, direktur pusat itu yang sekaligus menjabat sebagai Vikjen Nepal.
Dia mengatakan, parokinya kini memiliki 300 anggota dengan sekitar 150 lainnya saat ini sedang mengikuti pelajaran agama.
Seminari Menengah St. Joseph di pusat itu kini memiliki enam seminaris, dan lima calon akan masuk pada tahun ajaran baru.
Kelompok-kelompok Kristen lain juga menggunakan pusat itu untuk berbagai pertemuan mereka, kata imam itu.
Salah satu proyek utama pusat itu adalah tempat penampungan yang dikelola oleh Suster-Suster Adorasi Sakramen Mahakudus untuk 60 perempuan dan 17 anak yang terkena HIV/AIDS.
Para penghuni tempat tersebut belajar keterampilan untuk bisa mencari nafkah seperti merajut, membuat lilin, dan pertanian buah.
Belakangan ini, mereka juga mulai dengan pembuatan sari, pakaian wanita India.
Dengan dua lusin pertama produksi sari, mereka memperoleh keuntungan 2.000 rupee (US$ 27) dan pemesarannya diharapkan akan berkembang, kata Suster Clerin Jose.
Dia dan seorang suster lain juga mengelola sebuah klinik harian untuk warga desa.
Pusat itu juga memiliki tempat penitipan anak, sehingga para ibu bisa bekerja di ladang, kata Pastor Perumana.
Sejak dibuka, para suster dari Tarekat Cluny, Tarekat St. Anna, dan Kongregasi Yesus telah mulai membuka biara mereka dekat pusat itu.
Seorang imam dan seorang suster asal India, yang memulai gerakan kharismatik di Nepal, akan mengadakan retret di pusat tersebut pada bulan Juli.
Pastor Perumana mengatakan, dia berharap lebih banyak imam dan suster akan datang sehingga warga desa di wilayah itu bisa lebih dapat dijangkau.
Oleh Chirendra Satyal, ucanews.com, Kathmandu, Nepal