
Menonton sepak bola World Cup di televisi itu mendidik, terutama tentang persatuan dan semangat kerja tim, untuk para siminaris, kata seorang dosen seminari Yangon.
“Ini juga menyegarkan pikiran para seminaris setelah begitu banyak kerja keras setiap hari,” kata Pastor Augustines Ko, pembina olahraga dari Seminari Tinggi St. Joseph, kepada ucanews.com.
“Hal ini juga penting bagi masa depan mereka dalam misi Gereja,” katanya.
Frater Raphael Tin Nay Khine dari Keuskupan Pathein, mahasiswa teologi tahun terakhir, sependapat.
“Kami belajar semangat sportif, persatuan, dan kerja sama dari berbagai pertandingan,” katanya.
“Bila tim favorit kalah, kami berani memperlihatkan semangat sportif yang benar,” tambah Frater Bruno Myint Oo, seorang mahasiswa tahun kedua.
Berbagai saluran televisi Myanmar menayangkan langsung pertandingan World Cup 2010 dan para seminaris bisa menonton pada hari Rabu, Kamis dan Sabtu.
Para seminaris juga bermain sepak bola penuh persahabatan dengan tim kaum muda di berbagai paroki di Yangon.
Pertandingan ini dianggap sebagai bagian dari kegiatan kerasulan para seminaris di paroki tempat mereka ditugaskan, kata Pastor Ko.
“Untuk menjadi imam, calon diharapkan matang, bukan saja secara rohani tetapi juga secara mental dan fisik,” katanya.
Oleh Reporter ucanews.com, Yangon, Myanmar