
Surrogacy “melanggar etika keluarga, martabat manusia, dan tugas ibu,” kata umat Katolik di Taiwan.
Mereka mendesak pemerintah untuk menghentikan fenomena penggunaan ibu pengganti (surrogacy) yang semakin meningkat dan menyerukan agar teknologi prokreasi alamiah dipromosikan.
Desakan ini diajukan setelah tersiar berita tentang sejumlah perempuan Uzbekistan yang dibayar untuk melahirkan apa yang dikenal dengan “golden dolls” (boneka emas) – anak-anak campuran Kaukasia – bagi dua pria Cina melalui inseminasi buatan.
Artificial Reproduction Act (Undang Undang Reproduksi Artifisial) yang disetujui di Taiwan tahun 2007, melarang seleksi seks janin dan penggunaan embrio untuk penelitian, serta perdagangan embrio manusia, sperma atau telur.
Tapi UU tersebut tidak sepenuhnya berurusan dengan masalah surrogacy karena beberapa kelompok agama menentang pembahasan hal tersebut. Sekalipun praktek ini secara teknis bersifat ilegal namun iklan melalui Internet oleh banyak agen terjadi di mana-mana.
“Kesalahan terbesar UU tersebut untuk mengganti para ibu adalah bahwa UU itu menganggap tubuh perempuan dan janin hanya sebagai “alat,” yang membuat hubungan ibu-anak menjadi tidak manusiawi,” kata Pastor Louis Aldrich, direktur Human Life Ethical Research Center di Fu Jen Catholic University.
Sekarang ini, UU tersebut membatasi penggunaan teknologi reproduksi sebagai bantuan bagi para pasangan menikah. Tapi Pastor Aldrich memperingatkan bahwa legalisasi surrogacy bisa mengarah pada legalisasi perkawinan homoseksual dan kaum homoseksual yang menuntut hak untuk membesarkan anak.
Suster Arlene Te dan Victor Chang, keduanya dokter di Cardinal Tien Hospital, mendukung seruan pelarangan tersebut. Mereka mengatakan bahwa Gereja Katolik di Taiwan mendukung Creighton Model Fertility Care System, sebuah cara alamiah untuk meningkatkan kesuburan.
“Dengan menggunakan perawatan yang sesuai dengan siklus menstruasi dan kesuburan perempuan, sistem Creighton ini sudah berhasil kami gunakan di rumah sakit kami untuk membantu banyak pasangan memperoleh anak. Banyak pasangan bahkan gagal ketika menggunakan teknologi reproduksi buatan,” kata Suster Te.
Oleh Francis Kuo, ucanews.com, Taipei, Taiwan