
Tantangan terberat bagi keuskupan baru di Myanmar adalah menolong warga masyarakat adat agar mandiri di bidang mata pencaharian, kata uskupnya.
Warga suku Chin dan lainnya meninggalkan desa-desa mereka di Keuskupan Kalay dan pergi ke luar negeri untuk mencari nafkah, kata Uskup Felix Lian Khen Thang ketika diadakan Misa peringatan pembentukan wilayah yuridiksi Gereja yang baru pada 29 Juni.
“Migrasi merupakan tantangan kita sekarang,” kata uskup, yang sebelumnya menjadi uskup auksilier di Keuskupan Hakha.
“Saya juga ingin membenahi pendidikan umat di sini dan memperdalam iman Katolik mereka,” kata Uskup Felix.
Paus Benediktus XVI menetapkan Keuskupan Kalay pada 22 Mei dengan wilayah yang diambil dari Keuskupan Hakha, dan menjadikannya sebuah sufragan dari Keuskupan Agung Mandalay.
Dalam Misa konselebrasi dengan dua uskup agung dan 11 uskup itu, Felix Uskup mentahbiskan lima imam baru.
Lebih dari 2.000 umat Katolik dan Kristen menghadiri peristiwa itu.
Keuskupan tersebut perlu menjadi misioner dan melakukan evangelisasi seperti yang telah dilakukan para imam dari tarekat Misi Asing Paris ketika mereka datang ke wilayah itu, kata Uskup Felix dalam Misa itu.
Tantangan berat lain yang dihadapi keuskupan baru tersebut adalah menjaga hubungan baik dengan umat Kristen dari denominasi lain, kata Bernard Thawng Sian Lian, seorang katekis dan sekretaris asosiasi katekis keuskupan itu.
“Kita harus mencari cara baru untuk evangelisasi sehingga iman kita bisa memperdalam iman umat lainnya,” tambahnya.
Uskup Felix ditahbiskan menjadi imam tahun 1990 dan menjabat sebagai imam paroki selama beberapa tahun sebelum berangkat ke Roma tahun 1993 untuk studi. Dia kemudian menjabat sebagai sekretaris di Kedutaan Vatikan di Madagaskar, Bangladesh, dan Maroko.
Dari 2005-2006, dia menjadi penasehat Keuskupan Hakha hingga diangkat menjadi uskup auksilier pada 3 Maret 2006.
Keuskupan Kalay memiliki 22 paroki, 51 imam, satu diakon, 117 suster, 43 seminaris dan sekitar 52.000 umat Katolik.
Oleh Reporter ucanews.com, Mandalay, Myanmar