
“Saya khawatir, yang sibuk memikirkan dialog adalah Katolik dan Kristen. Yang merasakan ini penting adalah kita saja.”
Kekhawatiran itu diungkapkan salah seorang peserta dalam pertemuan bersama se Regio Jawa Komisi Hubungan Antar Agama (HAK) dan Komisi Seminari KWI.
Pertemuan yang berlangsung di Hening Griya tersebut diantar dengan paparan dua uskup, yaitu Uskup Bandung Mgr Johannes Pujasumarta Pr dan Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka. Kegiatan yang mulai Rabu, 28 Juli akan berakhir Jumat 30 Juli.
Kekhawatiran peserta di atas terbantahkan ketika mendengarkan paparan dari Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyumas Dr. H. Moh. Roqib, M.Ag.
Kiai Roqib memaparkan upaya-upaya yang pernah ia dan teman-teman umat Muslim lakukan untuk membangun kerukunan. “Saya memiliki beban lebih berat sekarang,” kata dosen STAIN Purwokerto tersebut.
Kiai Roqib mengungkapkan sepeninggal KH Dr Noer Iskandar Al-barsany atau Gus Noer (Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Karang Suci) tidak ada lagi orang yang dituakan seperti almarhum.
Hal serupa terjadi di tingkat nasional sepeninggal Gus Dur. Sebagai ketua FKUB dirinya mengaku harus berupaya lebih keras.
Artikel selengkapnya dapat dibaca di situs Keuskupan Purwokerto