
Sebuah pusat kepemudaan Katolik di Seoul menanggapi tingkat bunuh diri yang tinggi di Korea dengan sebuah program baru untuk kaum muda. Program itu memberi tekanan pada pentingnya kehidupan.
Program yang diselenggarakan oleh Metropolitan Boromae Youth Center dari Keuskupan Agung Seoul itu terdiri dari enam seri kuliah yang menunjukkan cara kepada orang-orang muda untuk mengidentifikasi dan membantu rekan-rekan mereka yang mungkin berada dalam risiko bunuh diri.
“Program ini bertujuan untuk menyadarkan orang muda akan nilai kehidupan, bukan menunjukkan mengapa bunuh diri itu buruk,” jelas Suster Jerome Mok Young-kyoung, kepala tim konseling di pusat pemuda tersebut.
“Jika orang muda dilengkapi dengan banyak solusi, maka mereka bisa menolong orang lain yang mengalami krisis,” tambahnya.
“Dalam pengalaman, saya menemukan bahwa orang muda dapat dengan mudah mempertimbangkan bunuh diri dan akhirnya dengan membunuh diri sendiri secara tanpa sengaja,” lanjut biarawati dari Tarekat Bunda Penolong Abadi itu.
Orang-orang muda yang rentang melakukan bunuh diri itu sering berbicara tentang kematian dan cenderung mengisolasikan diri dari sesama anggota keluarga dan teman, kata Suster Mok. Mereka tidak tertarik pada apa saja dan tidak tidak menghiraukan diri mereka sendiri.
Pusat ini memiliki tim pendidikan yang selalu bersedia untuk mengunjungi sekolah-sekolah dan paroki-paroki secara gratis.
Menurut Korea Kantor Statistik Nasional, 317 orang usia 10-19 melakukan bunuh diri tahun 2008. Tahun 2006 hanya 232 orang.
Secara keseluruhan, Korea Selatan menduduki tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Alasan utama bunuh diri generasi muda Korea adalah pikiran terkait dengan studi dan kegelisahan seksual, seiring dengan keretakan dalam keluarga.
Oleh John Choi, ucanews.com, Seoul, Korea