
Seorang pramugari Kristen tewas dalam bencana udara terburuk yang pernah dialami Pakistan. Dia dimakamkan kemarin [29 Juli], hari yang dijadikan Pakistan sebagai Hari Kabung karena 152 orang tewas dalam bencana tersebut.
Cuaca buruk menghambat operasi pencarian para korban dan kotak hitam dari Airbus A321 yang menabrak sebuah bukit di luar Islamabad pada 28 Juli.
Di antara mereka yang tewas itu adalah enam anggota kelompok orang muda, delapan anak, 22 wanita, termasuk dua pramugari Kristen.
Banyak keluarga korban masih menunggu untuk mengidentifikasi jenazah anggota keluarga mereka. Media melaporkan, pemerintah berhasil mengidentifikasi sedikitnya 58 mayat sejauh ini dan menyerahkan mereka kepada keluarganya.
Salah satunya, Sapna Munawar, pramugari berusia 26 tahun dari Full Gospel Assembly Church, dimakamkan kemarin di Wah, sebuah kota militer dekat Islamabad. Lebih dari 500 orang menghadiri pemakamannya.
Pastor William Rahat, bersama dengan 14 pendeta, memimpin ibadat pemakaman itu di Gereja tersebut.
“Kami terkejut ketika mendengar bencana dengan korban yang sedemikian banyak. Sapna adalah seorang yang teguh dalam doa, dan itu mungkin menjadi alasan bahwa tubuhnya utuh dan gampang ditemukan,” kata imam Katolik yang menjadi wakil rektor Seminari Menengah Maria dari Lourdes di Rawalpindi itu ketika dia berdoa untuk para korban lain dan keluarga mereka.
Kerabat dan orang-orang Gereja di Karachi juga menunggu kabar tentang jenazah Naheed Bhatti, pramugari Kristen lainnya yang berusia 27 tahun. Bhatti adalah anggota Gereja Pakistan.
“Kami akan segera mengatur pemakamannya. Identifikasi para korban memang sulit,” kata Rehmat Chaman, seorang katekis.
Menteri Dalam Negeri mengeluarkan pernyataan apakah kecelakaan itu disebabkan oleh aksi terorisme.
Dengan Banaras Khan, ucanews.com, Wah, Pakistan