
Beberapa mahasiswa media dan pembuat film muda memperingati 100 tahun kelahiran Ibu Teresa dengan merekam pandangan masyarakat di Kolkata tentang biarawati yang dihormati itu.
Sekitar 30 mahasiswa dari St. Xavier’s College, pusat media Chitrabani (gambar dan suara) yang dikelola Yesuit, dan pusat Gereja Sidang Jemaat Allah merekam berbagai kesaksian dari sebanyak mungkin orang dari semua sektor kehidupan.
Samhudi Parveen Khan, seorang wartawan-video, mengatakan bahwa bahkan saat masih kecil dia sangat terpesona melihat kehidupan Beata Teresa, yang membuat kota di India timur itu sebagai basis untuk karya cinta kasihnya.
Beata Teresa lahir pada 26 Agustus 1910, dari orangtua Albania. Dia tiba di India pada usia 19 tahun, setelah itu ia memulai misinya untuk melayani “yang termiskin dari kaum miskin” di daerah kumuh Kolkata hingga kematiannya pada tahun 1997.
Perekaman pandangan masyarakat itu benar-benar “mengilhami,” kata Khan, yang menjadi koordinator mahasiswa dari Fakultas Komunikasi Massa dan Videografi dari St. Xavier’s College di Kolkata.
Semua orang yang diwawancarai sejauh ini memiliki cerita pribadi tentang biarawati dan bagaimana mereka “tersentuh oleh tokoh legendaris ini,” kata Khan.
Setiap kesaksian akan diedit menjadi sebuah video utuh berdurasi 6-90 detik. Ini akan diputar dalam Mother Teresa International Film Festival pada 26-29 Agustus, kata Sunil Lucas, direktur festival itu
Orang-orang yang sezaman dengan Ibu Teresa “perlahan-lahan lenyap. Kami ingin menangkap kenangan orang-orang itu, terutama mereka yang mengenalnya secara pribadi, dan untuk menyajika itu semua kepada generasi muda,” katanya.
Banyak anak muda tidak banyak tahu tentang Ibu Teresa, kata Lucas, sambil menambahkan bahwa proyek ini juga akan membantu mereka yang terlibat di dalamnya untuk memahami apa yang diperjuangkan Ibu Teresa.
Setelah pemutaran, film-film itu akan diserahkan kepada Misionaris Cinta Kasih, tarekat yang didirikan oleh Ibu Teresa, katanya.
Oleh Julian S. Das, ucanews.com, Kolkata, India
Media dikritik terkait pemberitaan tentang poligami
Ketua PGI: Kita terlalu bereforia dengan reformasi
Vatikan berikan sinyal Paus Fransiskus akan kunjungi Manila