
Acara tradisional tahunan “pengikatan lengan” dari Suku Kayin, yang hampir punah, kini mulai digalakkan berkat peran utama Keuskupan Mawlamyine dalam menggalakkan kem,bali tradisi tersebut.
Sekitar 300 penganut kepercayaan asli, Anglikan, Baptis, Katolik, Budha, dan Mehodis berkumpul di Katedral Keluarga Kudus pada 25 Agustus untuk upacara tersebut yang oleh Uskup Raymond Saw Po Ray digambarkan sebagai “sebuah simbol” persatuan budaya. “Kami menyelenggarakan hal ini untuk memberdayakan masyarakat agar bertemu satu sama lain dan saling berbagi pengalaman baik dan buruk,” katanya.
Upacara mengikat lengan tersebut merupakan sebuah adat Etnis Kayin untuk mendorong kaum muda melestarikan tradisi nenek moyangnya dan untuk menjaga hubungan baik satu sama lain, kata Uskup Po Ray. Dalam upacara tersebut, masyarakat saling mengikat benang atau pita di lengan untuk menunjukkan tali persaudaraan atau untuk mengusir roh-roh jahat.
U Saw Tar Plar, wakil sekretaris Komisi Budaya Kayin, menjelaskan bahwa tujuh hal utana diperlukan dalam upacara tersebut.
Yang pertama adalah sendok kayu panjang, yang merupakan alat sangat penting, dan digunakan untuk mengaduk dan mengncampur nasi dan santan kelapa.
Yang berikut, gumpalan bola nasi yang menyimbolkan persatuan masyarakat Kayin.
Sebuah paket nasi ketan dalam bungkusan daun pisang yang menyimbolkan perlunya persatuan.
Batang tebu, yang manis dan yang bisa tumbuh dari stik, menyimbolkan pertumbuhan dan penyebaran masyarakat Etnis Kayin.
Bunga Nat-pan-nyo, yang hanya tumbuh di Negara Bagian Kayin dan bisa bertahan dalam semua iklim, menandakan perlunya ketahanan dalam mengatasi kesukaran dan kesulitan.
Akhirnya, bejana air yang berisi air murni menyimbolkan kesederhanaan dan persahabatan masyarakat Etnis Kayin.
Keuskupan Mawlamyine sudah melaksanakan upacara tradisional ini selama delapan tahun terakhir dan jumlah peserta terus bertambahn dari tahun ke tahun, kata U Tar Plar menjelaskan.
Adat istiadat ini hampir punah di abad ke-20 setelah sejumlah orang Kristen melarang adat tersebut dipraktekkan.
Namun hal ini berubah setelah masyarakat sadar akan pentingnya tradisi dan kebudayaan, kata Uskup Po Ray.
Oleh Reporter ucanews.com, Mawlamyine, Myanmar