
Sekitar 80.000 orang menggelar reli diam di Hong Kong pada 29 Agustus untuk berkabung dan menuntut keadilan bagi delapan wisatawan Hong Kong yang dibunuh dalam penyanderaan bus di Manila pekan lalu.
Reli itu merupakan satu dari serangkaian peristiwa yang dilakukan oleh warga setempat dan pekerja luar negeri Filipina untuk mengenang para korban yang dibunuh setelah seorang polisi yang dipecat menyandera bus itu pada 23 Agustus. Penyandera menuntut agar dia kembali bertugas seperti semula.
Secara tradisional, orang Cina memperingati seseorang yang meninggal setiap tujuh hari selama tujuh pekan.
Dipimpin oleh para legislatif, para pengunjuk rasa dari berbagai bidang politik membawa spanduk yang menuntut pemerintah Filipina membuat pernyataan publik untuk meminta maaf dan agar Manila mengizinkan keterlibatan polisi Hong Kong dalam investigasi yang tengah berjalan.
Mereka juga menuntut kompensasi bagi keluarga daru yang meninggal san para korban lain.
Sebelumnya, Uskup Hong Kong Mgr John Tong Hon memimpin Misa di Gereja St. Joseph. Dia berdoa kepada Allah bagi keselamatan arwah dari mereka yang meninggal dan penyembuhan bagi mereka yang terluka.
Ubahlah kesedihan menjadi kekuatan, katanya kepada umat.
Misa itu dihadiri oleh Donald Tsang, pemimpin utama Hong Kong, dan Claro S. Cristobal, konsul-jenderal Filipina.
Komisi Katolik untuk Keadilan dan Perdamaian dan Urusan Buruh kemudiasn bergabung dengan delapan kelompok Kristen dan kelompok Filipina lainnya dalam tuguran cahaya lilin yang diadakan di Distrik Central untuk mengungkapkan rasa simpati dan solidaritas. Mereka menuntut keadilan bagi korban yang meninggal dan yang terluka.
Insiden 23 Agustus di Manila itu menunjukkan situasi hak asasi manusia yang rendah di Filipina. Masyarakat menderita karena brutalitas, kekerasan, dan kelalaian polisi dan militer, kata para penyelenggara tersebut.
Sebelumnya, sebuah “pertemuan lintas agama semua orang Filipina” diadakan. Ratusan pekerja luar negeri Filipina menyampaikan rasa turut berbelasungkawa dan mengungkapkan persatuan mereka dengan masyarakat Hong Kong.
Oleh Reporter ucanews.com, Hong Kong, Cina