
Sepuluh uskup Katolik minta maaf atas “dosa-dosa” Gereja terhadap suku-suku di Filipina pada “Day of Pardon” (Hari Maaf) baru-baru ini dalam Misa di Katedral Baguio.
Uskup Laoag Mgr Sergio Utleg mengatakan kepada warga masyarakat adat yang menghadiri Misa 12 Oktober bahwa Gereja “gagal meniru Yesus yang menyambut dan menerima semua kebudayaan.”
“Kami telah menganggap semua ritual adat itu dari setan. Ketika memainkan gong dan Anda dihukum [oleh para misionaris awal]. Kami telah menindas semangat pribumi. Apa yang telah dilakukan atas nama Gereja mainstream? Kami meminta pengampunan [masyarakat adat],” kata Uskup Utleg dalam kotbahnya.
“Tidak seperti para misionaris awal di masa lalu memaksa masyarakat adat untuk memalingkan muka mereka dari kebudayaan sendiri, kita kini bisa mengungkapkan iman dalam bahasa, pola pikir, tanda dan simbol kita sendiri,” lanjutnya.
Para uskup kemudian ikut “Bodong,” sebuah ritual perdamaian yang biasa dilakukan oleh suku Kalinga dan masyarakat adat lainnya di Filipina utara. Ritual itu antara lain berisi pertukaran token perdamaian.
Benda-benda yang dipertukarkan itu antara lain sebuah Alkitab, sebuah rosario, dan tongkat seorang uskup yang ditukarkan dengan tombak, perisai, dan kain tenun.
Inkulturasi dapat menghapus dosa-dosa Gereja
Mengomentari acara tersebut, vikjen Keuskupan Baguio, Pastor Andres Cosalan Jr, mengatakan kepada ucanews.com inkulturasi bisa menyembuhkan “dosa-dosa” Gereja terhadap penduduk pribumi.
“Inkulturasi itu seperti inkarnasi di mana Allah menjadi manusia melalui Kristus,” demikian Pastor Cosalan, yang adalah warga masyarakat adat Ibaloi di Propinsi Benguet.
Komentar tersebut dibuat untuk memperingati Tribal Filipino Sunday yang diselenggarakan oleh Komisi Masyarakat Adat dari Konferensi Waligereja Filipina.
Acara tahun ini dimaksud untuk melakukan eksplorasi dengan tema “Healing for Solidarity: Asking for Forgiveness for Sins against Indigenous Peoples.”
Pastor Cosalan mengatakan ucanews.com bahwa Misa “Day of Pardon” dan ritual perdamaian dari para uskup merupakan pengulangan Day of Pardon yang pernah dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 2000 ketika dia meminta pengampunan atas dosa-dosa Gereja Katolik terhadap orang Yahudi, Protestan, masyarakat adat, dan perempuan.
Gereja sekarang, katanya, bisa mengupayakan penyembuhan dan solidaritas justru melalui “inkulturasi,” yang digambarkan sebagai cara Gereja Katolik menebus dirinya di depan masyarakat adat.
Solidaritas dengan masyarakat adat
Dalam kotbah pada “Day of Pardon” itu, Uskup Utleg juga menegaskan kepada para klerus untuk mendukung perjuangan masyarakat adat menentang pertambangan dan penebangan hutan yang menghancurkan tanah leluhur.
Ini merupakan “bagian dari solidaritas Gereja dengan masyarakat adat,” kata Uskup Utleg.
Sementara itu, Geosciences Bureau dan Pertambangan Filipina telah mendaftar 110 aplikasi untuk mengeksplorasi sumber daya mineral di bagian utara Filipina, yang dihuni oleh 1,2 juta masyarakat adat Igorots.
Oleh Maurice Malanes, ucanews.com, Baguio City, Filipina