
Uskup Penang, Malaysia, Mgr Antony Selvanayagam mengatakan, umat Katolik harus sadar bahwa pergi ke gereja setiap hari Minggu saja tidak bisa membuat iman kita kuat. Tambahan yang diperlukan, katanya, adalah menaruh perhatian dan mengasihi orang lain.
Uskup Selvanayagam memperkuat Komunitas Basis Gerejani dan mendirikan Kantor Pengembangan Masyarakat di Penang serta Komisi Pengembangan Manusia ditingkat paroki. Kedua kantor tersebut memberi dorongan kepada umat untuk mau bertindak demi pengembangan manusia – di tingkat keuskupan maupun di tingkat paroki.
Pada 24 Oktober, Uskup Selvanayagam menginjak usia 75 tahun, saat bagi para uskup untuk mengajukan permohonan pensiun.
Uskup Selvanayagam diangkat menjadi uskup auksilier Kuala Lumpur pada 6 Maret 1980, dan ditahbiskan menjadi uskup pada 1 September tahun yang sama. Pada 2 Juli 1983, dia diangkat menjadi uskup Penang.
Pada Oktober 2008, Keuskupan Penang memiliki umat Katolik sekitar 64.290 jiwa, atau 9 persen dari total penduduk di wilayah keuskupan tersebut.
Berikut ini adalah wawancara Uskup Selvanayagam dengan ucanews.com:
ucanews.com: Dalam tahun-tahun Anda sebagai uskup, hal penting apa saja yang menjadi sorotan?
USKUP ANTONY SELVANAYAGAM: Satu hal penting yang menjadi sorotan adalah membangun komunitas-komunitas – yang berbentuk KBG (Komunitas Basis Gerejani) di paroki-paroki. Gereja tidak bisa memenuhi tantangan jika dia tetap mempertahankan paroki sebagai komunitas paling kecil. Jadi sekarang umat beralih ke KBG sebagai jalur kehidupan Gereja. Umat Katolik harus mulai menyadari bahwa pergi ke gereja setiap hari Minggu saja tidak bisa membuat kita kuat dalam iman, tetapi merawat orang dan mencintai satu sama lain bisa membuat kita kuat untuk survive. Pendahulu saya Uskup Agung Soter Fernandez sudah memulai KBG. Saya hanya melanjutkan karya baik yang telah dilakukannya.
Poin penting lainnya adalah pembentukan Kantor Pengembangan Manusia di tingkat keuskupan (POHD, Penang Office for Human Development) dan di tingkat paroki (PHDC, Parish Human Development Committees).
Karena pengembangan manusia sangat penting dan juga menjadi dorongan utama (para uskup Semenanjung Malaysia), saya mulai membentuk POHD tahun 2000. Kini, setelah 11 tahun, POHD mengalami kemajuan pesat dengan berbagai pelayanan seperti The Light (Mercusuar) yang menjadi pusat makanan bagi para tunawisma), pelayanan migran, dan “Bright Sparks” untuk pengembangan anak secara utuh.
Dari POHD di tingkat keuskupan inilah, kami mendorong agar pengembangan manusia dilakukan di tingkat paroki. Maka PHDC dimulai, dan kini hampir semua paroki di keuskupan memiliki PHDC. Ini sejalan dengan panggilan Gereja bahwa setiap orang di paroki harus bertanggung jawab memperhatikan pengembangan orang lain secara utuh.
Hal penting lain terjadi tahun 1985 ketika saya menjadi ketua pertama Federasi Kristen Malaysia (CFM, Christian Federation of Malaysia), sebuah badan yang dibentuk untuk menyatukan suara semua orang Kristen. CFM juga merupakan anggota Dewan Konsultatif Agama Budha, Kristen, Hindu, Sikh, dan Tao di Malaysia. Sayang sekali bahwa agama Islam tidak termasuk dalam dewan ini.
Kami juga bangga bahwa Gereja kita tidak bersikap rasial. Kita tidak memiliki “Gereja Cina,” “Gereja Tamil,” dll, meskipun perlu diakui bahwa kelompok-kelompok bahasa yang berbeda ini ada, namun mereka saling mendukung. Tetapi pada saat yang sama kami juga mendorong mereka untuk menghadiri acara-acara bersama.
Tantangan apa yang pernah Anda hadapi?
Sulit menggerakkan orang untuk mengikuti program-program pembinaan. Banyak orang tidak melihat pentingnya pembinaan. Mereka tidak sepenuhnya sadar akan peran mereka sebagai umat Katolik. Padahal pembinaan terus menerus itu perlu agar Gereja hidup dan tanggap terhadap berbagai persoalan iman..
Tantangan lain adalah kekurangan imam. Meskipun imam hanya sedikit, para imam melakukan karya yang luas cakupannya untuk bisa melayani sedemikian banyak umat. Untungnya umat awam mendukung para imam dan tampil ke depan untuk membantu dalam kehidupan paroki. Umat awam ada di berbagai komisi seperti liturgi, kateketik, dll.
Lalu muncul kesalahpahaman di antara banyak orang bahwa politisi itu berpolitik atau terlibat di salah satu partai politik.
Padahal, sesungguhnya dengan menyuarakan hak-hak kita itu sudah berarti terlibat secara politik. Banyak keluhan tentang ketidakadilan, perlakuan yang tidak fair karena alasan rasial, dan sebagainya, tetapi tidak ada tindakan. Umat mengharapkan para pemimpin Gereja berbicara, tetapi mereka sendiri tidak mau berbuat apa-apa. Ini sama sekali tidak benar. Maka Gereja memberi dorongan kepada mereka untuk bersuara, untuk mengekspresikan pandangan mereka, untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Pemimpin Gereja memegang peranan, namun setiap Katolik perlu lebih aktif dalam mengekspresikan hak-hak mereka.
Mendengar Sabda Tuhan di gereja mestinya membantu kita melaksanakan tanggung jawab politik kita. Untuk peka secara politik terhadap apa yang terjadi di sekitar kita merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai Gereja. Kita perlu mendidik orang-orang di bidang yang penting ini, tapi karena bidang ini juga cukup rumit, maka kita harus cerdik.
Apa yang perlu terus diperhatikan oleh keuskupan?
Yang saya inginkan adalah pembangunan komunitas perlu terus dikembangkan melalui KBG, sehingga orang-orang dari semua agama dapat melihat cara hidup orang Kristen. KBG juga dapat membantu dalam meningkatkan kesadaran politik. KBG itu lebih dari sekedar wadah untuk praktek kesalehan. KBG itu mencakup kehidupan umat secara menyeluruh.
Oleh C.Y. Lai, ucanews.com, Penang, Malaysia