
Media Gereja di Korea mengabaikan perannya dalam karya misi sebagai pengawas (watchdog) dalam Gereja, demikian beberapa wartawan Katolik.
“Sebagai mingguan-mingguan keuskupan, koran-koran Gereja tersebut hampir tidak dapat meniup peluit dari dalam,” kata Clemens Lee Seok-woo, direktur berita dari Pyeonghwa Broadcasting Corporation yang dikelola Keuskupan Agung Seoul
Lee adalah salah satu peserta di forum yang diselenggarakan oleh Institut Pastoral Gaudium et Spes pada 27 Oktober bertema Responsibility and Reflection of the Media and the Church.
Stephen Kim-chul, seorang anggota staf editorial Catholic News Here and Now menambahkan, media Gereja sulit mengkritik Gereja karena keuskupan-keuskupan punya kuasa atas keuangan dan urusan personil.
“Namun, media harus memberitakan fakta obyektif,” tegasnya, sambil menambahkan bahwa media harus melakukan sensor bila perlu.
Paul Oh Min-hwan, peneliti senior dari Institut Pastoral Gaudium et Spes, sependapat. “Media Gereja harus melaporkan dan mengkritik tanpa ada tempat kudus apapun yang tak boleh disentuh.”
“Jika media Gereja tidak memainkan peran mereka dengan baik, Gereja tidak akan bergerak di jalur yang benar. Gereja harus mendorong medianya untuk melakukan tugasnya dengan baik,” lanjut Oh.
Sementara itu, Shon Seok-Choon yang pernah jadi wartawan meminta Gereja Katolik untuk berbagi tanggung jawab dengan pemerintah dalam membentuk opini publik.
“Agama-agama memang berperan penting dalam membentuk keyakinan-keyakinan bahkan sebelum media massa dimulai,” katanya.
Oleh John Choi, ucanews.com, Seoul, Korea Selatan