
Seorang imam Katolik asal India, salah satu dari 1.000 peserta pertemuan sains dan perdamaian yang diselanggarakan di Italia baru-baru ini, mengatakan, Gereja perlu mendorong dialog antaragama di berbagai bidang yang baru untuk meningkatkan perdamaian global.
Masyarakat dunia mencari perdamaian dan kerukunan di tengah terorisme dan berbagai bentuk kekerasan sektarian, kata Pastor Anand Muttungal dalam konferensi pers di Bhopal hari ini.
“Jelas, demi perdamaian, Gereja perlu memperluas lingkup dialog antaragama,” lanjutnya.
Imam diosesan dari Keuskupan Agung Bhopal adalah satu-satunya wakil Katolik dalam konferensi internasional kedua tentang “Science for Peace” di Milan tersebut. Dia menjadi salah dari 30 pembicara dalam acara itu.
Warga India lain yang diundang pada pertemuan 18-19 November itu adalah Tara Gandhi, cucu Mahatma Gandhi.
Ketika ditanya apa yang harus dilakukan oleh Gereja di India untuk membangun perdamaian, Pastor Muttungal mengatakan bahwa Gereja perlu lebih menggalakkan dialog antaragama di tingkat akar rumput.
Karya Gereja untuk orang miskin dan tertindas di India sudah sangat disalahpahami.
“Tuduhan dan serangan dengan alasan konversi (perpindahan agama) telah terjadi dan akan terjadi lagi,” kata Pastor Muttungal, jurubicara Gereja Katolik di Negara Bagian Madhya Pradesh.
“Setiap orang dalam Gereja tahu bahwa konversi melalui iming-iming dan paksaan yang dituduhkan itu tidak ada, dan kita telah menegaskan berulang kali secara publik. Namun tuduhan yang sama terus dilontarkan kepada kita tanpa alasan,” lanjutnya.
Skenario akan berubah, katanya, jika pihak berwenang Gereja masuk ke dalam dialog dengan “orang-orang yang berpandangan berbeda.”
Oleh Saji Thomas, ucanews.com, Bhopal, India