
Komentar Paus tentang kondom disambut baik oleh umat Katolik Thailand sebagai tanda bahwa Gereja masuk ke kancah perdebatan modern untuk memerangi HIV/AIDS.
“Dunia terus berubah. Saya kira, Gereja memahami hal itu, dan terkadang perlu menyesuaikan diri dengan zaman. Menyelamatkan kehidupan manusia itu penting,” kata Phuwamin Reunharn.
Ayah dua anak itu mengatakan, “penggunaan kondom untuk mencegah penyebaran AIDS itu bisa dibenarkan dan diterima,” namun penggunaan kondom itu sendiri tidak menjawab persoalan AIDS.
“Manusia harus percaya akan nilai-nilai dan etika yang baik,” tegasnya.
Isu kondom muncul ke permukaan setelah surat kabar Vatikan pada 20 November mempublikasi komentar-komentar yang terdapat dalam Light of the World: The Pope, the Church and the Signs of the Times, sebuah buku yang berisi serangkaian wawancara yang dibuat seorang wartawan Jerman dengan Paus Benediktus XVI.
Menurut laporan, Paus Benediktus mengatakan bahwa kondom bisa digunakan oleh pria dan wanita pekerja seks, karena penggunaan kondom itu lebih baik daripada penularan HIV.
Pastor Siranon Sanpetch dari Tarekat Camillian mengatakan bahwa Paus tidak menganjurkan penggunaan kondom. Paus hanya membuat pengamatan berkenaan dengan bagaimana membangkitkan kesadaran akan rasa tanggung jawab dalam diri manusia.
“Paus tidak memberi suatu pandangan moral yang baru tentang penggunaan kondom, tetapi hanya menggambarkan suatu perkembangan psikologis bahwa manusia, sekalipun berada dalam cengkeraman dosa, bisa mulai mengakui keamanan dan martabat manusia dari orang lain,” katanya.
“Gereja selalu menghormati kebenaran dan keindahan seksualitas manusia. Saya kita, Paus ingin memberi pandangannya tentang perlunya suatu seksualitas yang lebih manusiawi dan bertanggungjawab,” lanjut rektor Pusat Sosial Camillian di Chanthaburi.
Thongching Yimyuan, pemimpin Komisi Katolik untuk Perempuan, mengatakan dalam diskusi dengan para pekerja Gereja, “kondom sesungguhnya bukanlah cara” untuk melindungi diri dan infeksi HIV.
“Saya rasa, komentar-komentar Paus itu menjadi suatu langkah tentatif yang lebih modern dalam perang global melawan HIV/AIDS,” katanya, namun menambahkan bahwa kesetiaan dalam perkawinan merupakan cara yang lebih baik dalam mencegah penyebarah penyakit tersebut.
Oleh Vorapoj Singha, ucanews.com, Bangkok, Thailand