
Sejumlah tokoh wanita Katolik di Korea menyambut baik pandangan Paus Benediktus XVI tentang penggunaan kondom dalam kasus-kasus tertentu sekalipun sejumlah imam telah memberi klarifikasi bahwa sikap dasar Gereja tetap tidak berubah.
Teresa Kim Sun-shi, mantan ketua Komunitas Wanita Katolik Korea, mengatakan, dia merasa “lega” karena menurutnya Gereja Katolik, yang secara “keras” menentang penggunaan kondom, “sudah sedikit maju.”
Dia mengatakan bahwa dia gembira bahwa Gereja kelihatan maju “dalam memahami masyarakat modern dan umat manusia.”
Isu ini muncul ke permukaan setelah L’Osservatore Romano pada 20 November mempublikasi komentar-komentar Paus. Komentar-komentar itu terdapat dalam Light of the World: The Pope, the Church and the Signs of the Times, buku yang berisi serangkaian wawancara yang dilakukan oleh seorang wartawan Jerman dengan Paus Benediktus.
Menurut laporan, Paus mengatakan bahwa kondom boleh digunakan oleh pria dan wanita pekerja seks, karena itu lebih baik ketimbang penularan HIV.
Pastor Paul Lee Chang-young, sekretaris eksekutif Komisi Bioetika dari Konferensi Waligereja Korea, berpendapat bahwa Paus menyebut “suatu kasus khusus yang ekstrem,” sambil menekankan bahwa pandangan dasar Gereja tentang kondom tidak berubah.
Sementara Pastor Casimir Song Yul-sup, sekretaris eksekutif Kegiatan Pro-Life dari Konferensi Waligereja Korea menambahkan bahwa komentar Paus menyebutkan pencegahan AIDS dalam kasus khusus untuk pekerja seks.
Mengakui bahwa komentar itu membingungkan umat Katolik karena mereka bisa mengira bahwa penggunaan kondom diterima untuk mencegah AIDS, Pastor Song mengatakan bahwa dia hanya bisa memberi komentar secara memadai setelah membaca buku tersebut.
Namun, Dokter Anne Choi An-na, jurubicara Korean Prolife Doctors Association, sekelompok dokter penentang aborsi, mengatakan dia merasa “lega” dengan komentar-komentar Paus tersebut.
Choi, seorang dokter kandungan, mengatakan, para anggota dari asosiasinya telah lama mendorong masyarakat untuk menggunakan kondom guna mencegah penyebaran HIV/AIDS dan berbagai penyakit kelamin.
Namun, sejumlah kelompok wanita Katolik menolak mengomentari isu tersebut.
Oleh Stephen Hong, ucanews.com, Seoul, Korea Selatan