
Ribuan umat Katolik pasif kini kembali ke Gereja berkat usaha sebuah keuskupan di Korea Selatan.
Pada 24 November, Keuskupan Pusan mempublikasi hasil dari aksi yang dilakukannya selama setahun di 112 paroki untuk mengajak umat Katolik yang tidak mempraktekkan imannya untuk membarui iman mereka.
“Problem umat Katolik pasif itu serius karena jumlah mereka lebih dari 50 persen,” kata Pastor James Kim Sung-nam, direktur pastoral untuk misi dari Keuskupan Pusan.
Menurut keuskupan tersebut, hingga tahun 2009, dari 240.622 umat Katoliknya yang pasif hanya 7.398 orang yang kembali ke Gereja. Total umat Katolik di keuskupan tersebut adalah 415.157 jiwa.
Pastor Kim menganggap jumlah umat Katolik yang kembali ke Gereja kecil, namun membesarkan hati. “Kami akan terus menciptakan program dan mengajak umat Katolik yang pasif untuk kembali ke Gereja,” katanya.
Jumlah umat Katolik pasif di keuskupan itu, katanya, lebih tinggi dari jumlah rata-rata yang diberikan secara nasional. Alasan utama, katanya, adalah karena kaum muda yang bermigrasi keluar Busan masih tercatat di paroki asalnya sehingga menimbulkan kesan bahwa mereka masih berada di keuskupan.
Busan (Pusan), kota pelabuhan di ujung paling selatan Semenanjung Korea, merupakan kota terbesar kedua di Korea Selatan.
Menurut statistik Gereja, rata-rata jumlah umat Katolik pasif di Gereja Katolik Korea adalah 27,6 persen pada tahun lalu.
Seorang Katolik dikategorikan sebagai umat pasif jika dia tidak mempraktekkan imannya, tidak menghadiri Misa, dan tidak melaksanakan Pengakuan Dosa, atau tidak melaksanakan praktek-praktek iman Katolik lainnya. Umat Katolik yang berhenti mempraktekkan imannya itu hanya perlu kembali mempraktekkan imannya, dan tidak perlu diterima kembali melalui suatu upacara khusus. Melakukan pengakuan dosa merupakan bagian dari praktek kembali ke Gereja.
Oleh John Choi, ucanews.com, Seoul, Korea Selatan