
Pemimpin-pemimpin Gereja di Negara Bagian Tamil Nadu di India selatan skeptis tentang upaya mantan menteri utama untuk merayu orang Kristen di masa Natal.
Pada 23 Desember, pertama kalinya Jayalalitha Jayaram merayakan Natal di depan umum di Arumanai, sebuah kota kecil di Distrik Kanniyakumari.
Jayaram ingin “mengubah kesan bahwa dia anti-Kristen, apalagi karena sekarang ini pemilihan umum sudah mendekat,” kata Pastor Vincent Chinnadurai, ketua Komisi Minoritas Negara Bagian.
“Saya skeptis tentang niat baiknya,” kata imam tersebut kepada ucanews.com pada 28 Desember.
Selama perayaan tersebut, Jayaram menjanjikan subsidi pemerintah bagi orang Kristen yang ingin berziarah ke Tanah Suci. Saat ini hanya Muslim mendapatkan subsidi untuk ibadah haji ke Arab Saudi.
Jayaram juga berjanji untuk mencabut larangan yang ada saat ini menyangkut pembangunan gereja di lahan milik pribadi di Distrik Kanyakumari, sebuah distrik yang sensitif terhadap hubungan antaragama karena populasi Kristennya yang cukup besar.
Jayaram, yang memimpin pemerintah negara bagian tersebut selama 2001-2006, memberlakukan sebuah undang-undang yang melarang perpindahan agama. Larangan ini mendapat protes keras dari umat Kristen dan kaum Muslim.
Partainya menderita kekalahan besar dalam pemilihan parlemen 2004 dan kalah dalam pemilu di negara bagian dua tahun kemudian, terutama dari distrik-distrik yang didominasi orang Kristen. Umat Kristen berjumlah 6,1 persen dari 62 juta total penduduk negara bagian tersebut.
Pemerintah baru yang dipimpin oleh Muthuvel Karunanidhi mencabut undang-undang perpindahan agama tersebut.
Pastor Madurai Anand, editor Nam Vazhvu (Kehidupan Kita), menepis janji-jani dari Jeyaram. Itu semua, katanya, hanyalah upaya untuk menarik suara dari kelompok Kristen.
Pemilihan anggota dewan dari negara bagian tersebut akan berakhir tahun 2011.
Pastor Anand mengatakan, Gereja-Gereja di negara bagian ini “terbuka terhadap setiap tokoh politik yang menyediakan agenda yang baik bagi umat Kristen.” Sejauh ini, Jayaram bahkan tidak pernah “meminta maaf karena telah memberlakukan undang-undang yang kontroversial” itu, tambahnya.
Menurut Uskup Ezra Sargunam dari Gereja Injili India, perayaan Natal yang diselenggarakan oleh Jeyaram itu “sangat tidak cocok” walaupun Natal itu pesta yang bersifat universal.
“Selama dia berkuasa, dia melakukan segala daya upaya untuk menekan umat Kristen dan menindas kelompok minoritas,” demikian pemimpin Protestan tersebut. Dia juga menambahkan, “Saya tidak percaya dengan kasihnya kepada umat Kristen yang tampaknya mengada-ada itu.”