
Acara ini dimaksud untuk membantu orang-orang di jalan-jalan di Karachi yang mayoritas penduduknya Muslim untuk merayakan Natal. Hal ini dan masih banyak lagi dilakukan. Ini juga menciptakan rasa persatuan di antara berbagai Gereja Protestan yang berbeda-beda di kota tersebut.
“Kami disajikan ide dan membuat semua Gereja berkumpul, kemudian beri nama ‘Vision for Life’ untuk menyatukan semua Gereja,” kata Pendeta Peter Gill dari New Apostolic Church.
Butuh waktu tiga tahun untuk merencanakan program menyanyikan lagu-lagu Natal yang unik sebagai cara untuk menjangkau anak yatim dan anak-anak lain guna berbagi kegembiraan Natal dengan mereka, katanya.
Memang ada sedikit tantangan, terutama menyangkut keamanan. “Tapi kami berhasil mematahkan gelombang ketakutan dan bisa menjangkau masyarakat. Ini membantu orang agar keluar dari rumah mereka untuk mendengarkan dan menyebarkan Kabar Baik di jalan-jalan,” kata pendeta tersebut.
Delapan pendeta dan tiga uskup dari enam kelompok pelayanan dan Gereja Protestan ikut mengatur acara dengan menampilkan penyanyi-penyanyi Kristen di sebuah truk berhiaskan nyala-nyala lampu dan berputar di jalan-jalan Karachi dari 20-27 Desember.
Untuk petama kalinya, truk yang dihiasi dengan bintang-bintang besar dan pohon Natal itu melakukan perjalanan ke 21 komunitas Kristen di Karachi untuk memberikan Kabar Baik dan hadiah.
Para imam membagikan hadiah termasuk lagu-lagu Natal dan VCD agama, kalender, makanan, dan hadiah-hadiah lainnya yang disumbangkan oleh berbagai gereja dan organisasi.
Ada 1.300 hadiah senilai lebih dari 100.000 rupee (US$ 1.200), kata Rehmat Iqbal, ketua dari perayaan tersebut.
Igbal mengatakan truk Natal itu membawa hadiah serta makanan untuk mendistribusikan kepada ratusan anak-anak usia enam-15 tahun di setiap wilayah yang dikunjungi. “Kami memberikan 50 sampai 70 hadiah di setiap wilayah,” katanya.
“Setiap tahun ratusan kelompok paduan suara mendatangi berbagai daerah yang berbeda untuk mendistribusikan hadiah, tapi (truk) ini merupakan cara unik untuk mudah menjangkau orang-orang di musim dingin,” kata Uskup Javed Anjum dari Gereja Methodist.
Saat menerima hadiah yang dibagikan dari pintu ke pintu oleh para relawan kami, orang-orang dapat mendengarkan lagu-lagu Natal dari truk di depan rumah mereka, kata Iqbal.
Biaya total untuk truk termasuk lampu, sound system, generator, dan biaya sewa itu sekitar 7.000-10.000 rupee (US$ 85-120) per hari, sedangkan hadiah yang didistribusikan berasal dari berbagai kelompok pelayanan, Gereja yang berbeda, dan sumbangan perorangan.