
Pemimpin Kristen mengutuk penyusupan ke sebuah kuil Budha Korea baru-baru ini oleh para anggota kelompok berbaju anti-komunis radikal.
Konflik ini dipandang sebagai salah satu konflik umat Budha dan umat Protestan, tapi sebenarnya ini merupakan konflik “sosial,” kata mereka dalam pernyataan bersama yang dirilis 29 Desember.
Pernyataan itu dikeluarkan oleh Uskup Agung Kwangju Mgr Hyginus Kim Hee-jung, ketua Komisi Persatuan Umat Kristen dan Dialog Antaragama dari Konferensi Waligereja Korea, dan sembilan pemimpin Kristen dari Gereja Ortodoks, Gereja Anglikan, Gereja Presbyterian, Gereja Methodist, dan Gereja Injil Sepenuh.
Para pemimpin itu mengatakan mereka prihatin atas konflik agama dan dampak sosialnya.
Beberapa orang secara sembarangan mengekspresikan keyakinan politik mereka, kata para pemimpin tersebut. Mereka juga menambahkan bahwa politik hendaknya tidak dicampuradukkan dengan kegiatan keagamaan.
Tindakan itu mereka mengutuk sebagai “kekerasan barbar” karena menyusup masuk ke kuil Jogye itu bukan kebetulan, tetapi merupakan “terorisme terhadap semua umat beragama,” kata mereka.
Delapan anggota kelompok yang menyusup ke kuil Budha pada 23 Desember itu mengenakan seragam militer. Mereka menghina umat Budha, demikian Sekte Budha Jogye.
Insiden ini terjadi ketika 3.000 umat Budha seang berdoa untuk memprotes Proyek Empat Sungai dari pemerintah dan pemotongan anggaran program magang di kuil tersebut.