
Presiden Benigno Aquino III memberi rosario kepada ibu dari salah satu korban bom di bus yang menewaskan lima orang dan mencederai 13 lainnya. Ledakan itu terjadi pada Selasa 25 Januari.
“Ini, kita berdoa. Pegang rosario ini,” kata presiden kepada ibu dari Irish Teñola, salah satu korban ledakan itu. Teñola meninggal pada Rabu pagi tidak lama setelah presiden mengunjunginya.
Menteri Sosial Corazon Soliman mengatakan, Presiden Aquino lebih dulu mengunjungi biara Holy Spirit Adoration Sisters untuk memperingati hari ulang tahun mendiang ibunya. Aquino adalah putra dari almarhumah Corazon Aquino, tokoh demokrasi Filipina.
Presiden berjanji kepada para korban ledakan bom di bus itu bahwa pemerintah akan berusaha menangkap para pelaku insiden itu.
Hari Kamis, 27 Januari, “ground zero” ledakan bus di Makati City itu penuh dengan bunga dan ucapan simpati. Ucapan rasa simpati itu sendiri sudah mulai berdatangan sehari sebelum kota tersebut mengadakan satu hari perkabungan dan doa bagi para korban.
“Kita mengenang para korban dan berdoa bagi kedamaian di negeri kita …. Kita mengutuk keras aksi yang menjijikan dan tidak berprikemanusiaan yang telah mencederai dan merenggut nyawa warga sipil,” kata Walikota Makati Jejomar Erwin Binay Jr.
Ledakan itu juga mendorong Gereja Katolik untuk meminta pemerintah lokal Manila untuk menambah petugas keamanan bagi para tamu yang akan menghadiri peringatan 400 tahun University of Santo Tomas (UST), universitas olik tertua di Asia.
Rektor UST, Pastor Rolando de la Rosa OP, mengatakan, UST telah berkoordinasi dengan pemerintah lokal Manila untuk melindungi para tamu, termasuk utusan paus yaitu Zenon Kardinal Grocholewski, serta 50 delegasi asing.
Setidaknya, Manila telah mengalami dua kali ledakan bom yang sangat menakutkan, dan pada hari Kamis 27 Januari terlihat berbagai kantor perekrutan orang asing di Distrik Ermita terganggu.