
Dalam “Run for Justice” pada 26 Januari, seorang imam memimpin sekelompok wartawan dan aktivis lingkungan hidup untuk mengutuk pembunuhan wartawan Gerardo Ortega. Acara itu berlangsung di Puerto Princesa City, Propinsi Palawan.
Pastor Robert Reyes, yang dikenal dengan “running priest,” mengatakan bahwa mereka “sedih dan sangat marah” atas pembunuhan Ortega itu.
Kelompok itu berlari dari Puerto Princesa Airport ke Sta. Monica Chapel di Sta. Monica Village tempat jenazah Ortega disemayamkan.
Ortega ditembak mati pada 24 Januari ketika keluar untuk berbelanja seusai penyiaran radio yang dilakukannya setiap pagi.
Ortega, kata imam tersebut, dikenal oleh masyarakat setempat sebagai seorang penasehat yang berani, “yang hanya punya satu tujuan untuk melindungi Palawan dari pengrusakan lingkungan hidup.”
Dalam program “Ramatak” di radio, Ortega mengkritik keras para pejabat pemerintah lokal yang mendukung konsesi pertambangan di propinsi tersebut.
Pastor Reyes, yang aktif dalam sejumlah program lingkungan hidup dari Vikariat Apostolik Puerto Princesa, mengatakan bahwa Ortega “melawan para politisi yang menjual Palawan untuk keuntungan pribadi mereka sendiri.”
Para politisi ini menjanjikan “sustainable logging” dan “sustainable mining” ta[pi kemudian lupa apa arti kata “sustainable” tersebut, kata imam itu.
Gina Lopez, pemimpin ABS-CBN Foundation yang bekerja sama dengan Ortega menyangkut lingkungan hidup dan berbagai proyek turisme, ikut dalam “Run for Justice” itu. Perempuan ini mengatakan, Ortega hanya menginginkan sebuah “negeri yang sumber daya alamnya dilindungi dan dirawat.”
Pastor Reyes mengatakan kepada ucanews.com bahwa Gereja telah membuat petisi dengan 10 juta tanda tangan untuk melawan pertambangan di propinsi tersebut.