
Seorang uskup dari Gereja Protestan di Filipina memperingatkan bahwa agama, terutama agama Kristen, bisa menjadi agama yang tidak lagi relevan jika orang-orang Gereja gagal menghayati prinsip-prinsip agama.
“Agama akan kehilangan relevansinya jika kita gagal dalam misi kita, yaitu mendamaikan dunia dengan Tuhan,” kata Uskup Marino Inong dari United Church of Christ di Filipina.
“Marilah kita menjadi alat penyembuhan dan rekonsiliasi di dunia,” katanya dalam sebuah pertemuan para pemimpin Gereja Katolik, Protestan, Injili, dan Pentekosta di akhir Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen. Pertemuan itu berlangsung di Baguio City.
Uskup Inong mengatakan, pertemuan tersebut merupakan suatu “langkah yang baik” menuju rekonsiliasi.
“Ketika kita bergandengan tangan dalam doa, kita sesungguhnya mengawali suatu kebangkitan untuk menghadapi kekacauan di dunia ini,” katanya.
Namun dia memperingatkan bahwa umat Kristen hendaknya memiliki pandangan yang melampaui komunitasnya sendiri agar bisa melenyapkan sikap dan kecenderungan bias, steteo-tipe, dan “lebih suci dari yang lain.”
“Janganlah kita memberi kesempatan kepada si jahat untuk memanfaatkan bias dan prasangka kita, karena dengan begitu si jahat akan merancang kejahatan,” kata uskup tersebut.
Misi umat Kristen adalah “rekonsiliasi dengan alam dan segenap ciptaan Allah,” tambahnya. Dia juga mengatakan, berbagai bencana alam “secara jelas menunjukkan betapa rusak hubungan kita dengan segala sesuatu yang diciptakan dan disediakan Allah untuk kita.”
Para tokoh gereja lainnya yang menghadiri pertemuan itu juga menekankan cara-cara untuk mempersatukan umat Kristen.
“Sekarang ini, Roh Kudus – yang menyatukan kita dalam kasih — dan doa bisa menyatukan kita semua,” kata Pastor Andres Cosalan, vikjen Keuskupan Baguio.
Pendeta Henry Kiley dari Episcopal (Anglican) Church di Filipina menghimbau “saling berbagi apa yang kita miliki seperti yang dilakukan umat Kristen perdana.”