
Warga Filipina yang terjebak dalam pergolakan penuh kekerasan di Libya berlindung di katedral dari Vikariat Apostolik Tripoli, kata seorang imam misionaris.
Pastor Hermilo Vilason OFM mengatakan, sejumlah warga Filipina menempati gereja tersebut sejak Senin 24 Februari dan enggan untuk pergi ke luar karena takut.
Pastor Vilason, kapelan untuk pekerja migran Filipina di Libya, mengatakan kepada Komisi untuk Pastoral Care of Migrants and Itinerant People (ECMI) dalam sebuah pesan bahwa mereka setiap hari terbangun karena bunyi tembakan.
“Banyak kali bunyi tembakan itu terjadi sporadis dan kadang terjadi berkesinambungan terus menerus,” kata Pastor Vilason dalam sebuah komunike kepada Pastor Edwin Corros, sekretaris eksekutif ECMI.
Mereka juga mendengar suara helikopter di atas gereja tetapi tidak berani ke luar untuk melihatnya.
“Uskup Giovanni Innocenzo Martinelli meminta kami untuk tetap berada di dalam gereja dan jangan mengambil resiko untuk keluar dari gedung gereja,” kata Pastor.
Tidak ada tempat lain bagi warga Filipina, kata imam itu, karena di antara mereka yang punya status penduduk sementara, hanya dua orang Gereja yang bisa berbahasa Arab. Namun imam itu optimis bahwa mereka akan aman di dalam gereja.
“Sejak 1971, tidak ada yang berani mengangkat batu dan melempari gereja atau membuat kesulitan dalam kompleks gereja,” katanya.
Uskup Martinelli juga meminta warga Filipina untuk terus berdoa demi keselamatan mereka, dengan mengatakan bahwa nasib mereka berada di tangan Tuhan.
Departemen Luar Negeri Filipina mengatakan, pihaknya sudah mengirim utusan ke Libya untuk mengupayakan keluarnya warga Filipina dari negara itu dengan selamat.
Di Libya ada sekitar 26.000 orang Filipina, sebagian besar tenaga profesional yang bekerja di berbagai perusahaan multinasional.
Menurut Amnesty International, sekitar 200 pengunjuk rasa telah dibunuh oleh pasukan keamanan hingga 20 Februari.