
Para uskup Korea, setelah merenungkan dua kunjungan Paus Yohanes Paulus II (JPII) ke Korea, mengatakan kedua kunjungan itu mendorong Gereja lokal untuk bertumbuh secara internal maupun eksternal.
Pada 26 April, Konferensi Waligereja Korea mengeluarkan siaran pers berjudul “Beato Yohanes Paulus II dan Gereja Korea.” Konferensi waligereja tersebut mengumumkan beatifikasi JPII pada 1 Mei oleh Paus Benediktus XVI di Roma.
Mereka menekankan bahwa beatifikasi JPII juga sudah lama menjadi kerinduan Gereja lokal.
Kontribusi kunjungan pertama JPII tahun 1984 sangat signifikan dalam “peningkatan pesat jumlah umat Katolik.” Umat Katolik menjadi lebih dari 2 juta pada tahun 1986 dari 1,3 juta pada tahun 1980.
Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Korea Selatan pada Mei 1984 untuk merayakan 200 tahun Gereja Katolik Korea dan kanonisasi 103 martir Korea yang dianiaya pada tahun 1800-an.
Para uskup mengatakan bahwa kunjungan pertama JPII itu mendorong Gereja lokal untuk menyelenggarakan pertemuan pastoral tingkat nasional di mana para uskup dan wakil umat Katolik membahas isu-isu penting dalam Gereja dan masyarakat selama tujuh bulan.
Setelah kunjungan pertamanya, “tas plastik bergambar Paus Yohanes Paulus II menjadi favorit yang paling senangi di kalangan anak-anak sekolah,” kata para uskup mengenang situasi saat itu.
Tahun 1986, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Korea lagi untuk merayakan Kongres Ekaristi Internasional ke-44 di Seoul, yang membangkitkan “kesadaran akan pentingnya berbagi (sharing) dan dialog ekumene” dalam Gereja lokal, catat para uskup.
Mereka mengatakan bahwa kunjungan kedua itu memotivasi Gereja Katolik dan Protestan setempat untuk mengadakan doa ekumene di Katedral Gereja Anglikan di Seoul, dan One-body One-spirit Movement dari Keuskupan Agung Seoul mulai berkembang menjadi LSM Katolik terbesar di Korea yang mempraktekkan semangat “berbagi” (sharing) dengan sekitar 50 negara.
Para uskup juga menilai bahwa ajaran JPII tentang kehidupan sangat mempengaruhi gerakan pro-life di Korea, yang aborsi dianggap biasa. Para uskup mengatakan bahwa JPII memberi peringatan tentang budaya anti-kehidupan seperti aborsi, kontrol kelahiran, dan euthanasia.