
Anak-anak dari orang Filipina yang bekerja di luar negeri terus berdoa untuk keselamatan orangtua mereka.
“Ya Tuhan, lindungilah ayah saya sehingga dia bisa pulang dan kita bisa memasak lagi,” demikian doa Ziltjain Surigao, 12, di sebuah forum di Universitas Filipina baru-baru ini.
Gadis remaja yang akan masuk sekolah menengah di Quezon City ini bercita-cita menjadi koki pastry seperti ayahnya.
“Ayah, saya berterima kasih karena telah menjaga saya dan menyediakan apa yang saya butuhkan,” katanya dalam sebuah surat yang dibacakan dalam forum bertema: The Difference Parental Migration Makes: Health and Well-Being Impacts on Left-Behind Children.
Surigao bergabung dengan dua anak putra dan tiga anak putri yang orangtuanya juga adalah migran. Keenamnya berada di bawah asuhan Pelayanan Pastoral Care untuk Migran dan Keluarganya di Keuskupan Novaliches, yang ditangani oleh Suster Eva Ocemo dari Tarekat Scalabrini.
Anak-anak juga diminta untuk memberikan pandangan mereka dalam sebuah penelitian bertema: Child Health and Migrant Parents in Southeast Asia.
Penelitian yang dilakukan antara tahun 2008 dan 2010 ini mempelajari situasi anak-anak pekerja migran di bawah usia 12 tahun di empat negara — Filipina, Indonesia, Thailand, dan Vietnam.
Dr. Maruja Asis dari Scalabrini Migration Center mengatakan, 509 keluarga di Laguna dan 491 keluarga di Bulacan – dua propinsi yang secara konsisten mengirimkan sejumlah besar pekerja migran di luar negeri – mengalami “penanganan ulang” dalam perawatan anak dan keluarga.
“Tidak ada perbedaan nyata menyangkut kebahagiaan antara anak-anak migran dan non-migran. Masalah umum yang dihadapi semua anak-anak lebih berkaitan dengan isu-isu pertemanan ketimbang hubungan mereka dengan orangtua atau wali,” kata Asis dalam penelitian tersebut.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya orangtua tidak selalu menghasilkan probabilitas yang lebih tinggi menyangkut tekanan psikologis pada anak-anak ditinggal-pergi orangtua mereka,” kata Asis.
Penelitian itu menyimpulkan bahwa menggunakan pesan teks dan ponsel, “keluarga transnasional” bisa menjembatani jarak fisik dan bisa terus mempedulikan anak-anak sebagai suatu “tanggung jawab berkeluarga.”
“Hal ini benar-benar tidak saya harapkan sebelumnya,” kata Carlos Cao, seorang pengacara yang mengetuai Philippines Overseas Employment Administration. “Ini menguatkan saya untuk membuat proposal dan memperbaiki berbagai program,” katanya.
Extended familes can endure (ucanews.com)