
Tri Mumpuni yang dijuluki ‘sang penerang desa’ menjadi salah satu pemenang Magsaysay Award, sebuah penghargaan bergengsi di Asia.
Pengabdian wanita berusia 46 tahun ini kepada masyarakat, terutama yang ada di desa-desa, memang luar biasa.
Berkat upaya dia dan kawan-kawanya di Ibeka (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), ratusan desa di seluruh Indonesia bisa menikmati cahaya listrik. Maka ia dijuluki sebagai ‘sang penerang desa.’
“Tri telah membantu memanfaatkan teknologi-teknologi yang membantu memberdayakan masyarakat daerah terpencil,” kata Carmencita Abella,
ketua Yayasan Magsaysay.
Tri, kelahiran Semarang, Jawa Tengah, dikenal setelah yayasan IBEKA yang didirikannya, dan sebagai wirausahawati sosial, mendukung pembatalan proyek solar home system (SHS) tahun 2010, yang juga pernah dipuji Presiden Barrack Obama atas keberhasilannya itu.
Setiap tahun enam orang atau organisasi ditetapkan sebagai pemenang Magsaysay Award.
Selain Tri masih ada seorang pemenang pria yang membangun sekolah Islam untuk para gadis di Indonesia, beserta dari India dan Kamboja. Para pemenang akan menerima penghargaan mereka di Manila pada 31 Agustus.
Magsaysay Award, yang sering disebut sebagai Hadiah Nobel Asia, diambil dari nama presiden Filipina yang meninggal akibat kecelakaan pesawat tahun 1957.
Penghargaan ini adalah apresiasi atas upaya orang-orang yang bergerak dalam isu-isu pengembangan sumber daya manusia di Asia.