
Perjuangan Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono atau IJ Kasimo telah menjadi topik utama dalam dua seminar yang diadakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan Surabaya, Jawa Timur pekan ini.
Kasimo, yang lahir tahun 1900 dan meninggal tahun 1986, adalah seorang pendiri Partai Katolik dan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, serta dianggap oleh banyak kalangan ‘layak sebagai pahlawan nasional.’
Menurut Esthon Leyloh Foenay, seorang Protestan, Kasimo adalah seorang politisi yang memiliki etika dan martabat serta berperanan penting dalam menyatukan bangsa.
“Dalam rentang waktu pengabdian kepada bangsa dan negara Indonesia, Kasimo senantiasa menumbuh kembangkan nilai-nilai kejujuran profesional, kejujuran intelektual dan kejujuran rohani,” katanya kepada para peserta pada seminar di Kupang, 27 Juli, yang diadakan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Gregorius Agung di Oeleta.
Kasimo adalah seorang pemimpin yang dihormati bukan hanya umat Katolik namun juga umat agama lain, katanya.
“Orang Katolik Indonesia harus bangga karena memiliki tokoh seperti Kasimo, yang menjadi inisiator toleransi kehidupan antarumat beragama, menjunjung tinggi Pancasila sebagai ideologi dan falsafah hidup bangsa Indonesia, yang terus terjaga dan terbina hingga saat ini,” tambahnya.
Pada hari Minggu, di Surabaya, Harry Tjan Silalahi, mantan sekjen Partai Katolik, mengatakan kepada sekitar 400 orang bahwa Kasimo adalah seorang tokoh yang menentang korupsi.
Sedangkan Imam Ghazali, seorang pembicara Muslim pada seminar itu, juga memuji Kasimo atas upayanya dalam mempromosikan cita-cita bangsa.
“Nilai yang diperjuangkan oleh Kasimo dalam membentuk bangsa ini sama dengan nilai-nilai ke-Islam-an, yang inklusif dan bisa menatap bangsa ini ke depan,” katanya.
Pastor Antonius Luluk Widyawan, ketua Komisi Kerawam Keuskupan Surabaya, menghimbau umat Katolik setempat untuk belajar dari perjuangan Kasimo. “Kita harus mendukung Kasimo menjadi Pahlawan Nasional,” katanya.