UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Inilah kisah Suster pengelola Kasih Mulia Sejati

13/09/2011

Inilah kisah Suster pengelola Kasih Mulia Sejati thumbnail

Suster Maria Yovita CP, ketua Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati (The Jakarta Globe)

Suster Maria Yovita CP, ketua Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati, di Bojong Indah, Jakarta Barat, mengatakan meskipun terasa sulit menjaga anak-anak, namun tugas ini mulia dan menyelamatkan anak-anak tersebut.

Anak-anak yang berada di panti itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai latar belakang, termasuk agama.

Berikut adalah wawancara Suster Yovita CP dengan The Jakarta Globe, sebuah harian berbahasa Inggris yang berbasis di Jakarta.

Ceritakan tentang panti asuhan yang anda kelola!

Panti asuhan ini didirikan oleh tarekat Suster-Suster Passionis (CP)  tahun 2000. Rumah yang kami gunakan ini untuk Yayasan Kasih Mulia Sejati, sebuah yayasan keluarga yang membuat karya sosial dengan berbagai alasan. Kami membeli rumah ini dan mengubahnya menjadi panti asuhan. Sekarang, rumah ini sudah cukup penuh. Ada 38 anak di panti ini, termasuk tujuh bayi dan enam balita. Sisanya adalah anak-anak usia sekolah.

Di panti ini kami memiliki dua biarawati dan beberapa pengasuh bayi yang membantu kami. Kami berencana untuk memperluas panti asuhan ini. Kami memiliki dana, namun kami masih menunggu persetujuan pemerintah Jakarta Barat.

Apa yang Anda lakukan di panti ini?

Saya sebagai penanggung  jawab. Saya  menerima tamu dan mengawasi pekerjaan staf di sini. Saya juga berinteraksi dengan anak-anak, terutama yang bermasalah, karena hal itu sangat penting untuk memberi mereka perhatian. Rasanya sulit menangani anak-anak ini. Kami juga bekerja dengan para Suster Gembala Baik (RGS). Selama musim liburan, ketika semua orang pergi, kami mengerjakan semuanya sendiri, dari memasak hingga membersihkan.

Dari mana anak-anak itu berasal?

Anak-anak datang dari berbagai daerah di Indonesia. Orangtua mereka biasanya datang ke Jakarta dan memiliki berbagai masalah, seperti perempuan yang hamil di luar nikah atau yang janda atau bercerai. Mereka biasanya single parent. Ada juga orangtua yang terlalu miskin untuk membesarkan anak mereka. Mereka tidak mampu merawat anak-anak mereka dan memutuskan untuk menitipkannya ke panti asuhan ini, yang bisa menjamin anak mereka. Ada juga korban kerusuhan Mei ’98, wanita yang diperkosa di masa muda mereka dan tidak siap untuk membesarkan anak. Jadi mereka meninggalkan anak-anak mereka di sini.

Apakah ada tantangan khusus dalam mengelola panti ini?

Jujur saja, saya sungguh tidak ingin bekerja di panti asuhan, tapi ini adalah bagian dari menjadi seorang biarawati. Saya melakukan apa yang atasan saya minta  untuk melakukannya. Bagi saya, satu-satuynya hambatan adalah mengurus anak-anak nakal dan perilaku perkembangan karena mereka berusaha untuk mendapatkan perhatian orang.

Suatu kali, lima anak kami dihukum di sekolah karena masalah sikap. Guru bahasa Inggris mereka telah menegur mereka, tapi kami mengatakan kepadanya bahwa anak-anak butuh perhatian. Saya benar-benar memahami  mereka, karena anak-anak ini tidak pernah mengalami kasih sayang orangtua seperti kebanyakan anak-anak. Ini cukup sulit, tetapi sekali lagi tugas kami adalah untuk membawa orang kepada Yang Mahakuasa mengampuni melalui penderitaan Yesus Kristus. Kami berbagi cinta kami dan itu mulia.

Apakah mereka dibaptis ke dalam Katolik?

Oh, tidak.

Kami mendidik mereka dengan cara Katolik, tetapi kami tidak membaptis mereka. Kami hanya membaptis mereka yang memilih untuk menjadi Katolik. Kami tidak pernah memaksa siapa pun. Kami memiliki anak-anak Muslim di sini, dan bahkan ada anak-anak beragama Protestan, kami juga tidak akan memaksa mereka menjadi Katolik. Tapi kami hidup sesuai dengan Katolik. Misalnya, anak-anak bergabung doa pagi dan pergi ke Sekolah Minggu dan Misa. Tapi pada akhirnya, itu menjadi pilihan mereka sendiri untuk menjadi seorang Katolik.

Bolehkah orang mengadopsi anak?

Adopsi boleh-boleh saja, tapi untuk saat ini kami tidak lakukan. Karena orangtua mereka hanya menitip, dan kalau libur mereka pulang ke rumah selama beberapa hari.

Apakah Anda ada pesan bagi orangtua?

Indonesia adalah negara yang sangat kompleks. Kita hidup dengan norma-norma sosial Timur dan masalah datang tidak hanya dari diri kita sendiri, tapi dari orang di sekitar. Di sini, perlu interaksi sosial. Jika seseorang hamil di luar nikah, orang-orang di sini akan menganggap tak bermoral dan keluarga akan menganggapnya sebagai skandal besar. Ketika itu terjadi, bayi biasanya akan dititipkan ke panti asuhan. Saya pikir mereka perlu belajar untuk menerima kenyataan hidup. Orangtua yang mampu membesarkan anak-anak mereka tidak boleh membiarkan anak-anak mereka merana.

Artikel asli: My Jakarta: Sister Yulita Maria Cp, Passionist Nun in Kasih Mulia Sejati Orphanage (The Jakarta Globe)

  • Yuliusmulyono

    Bolehkah kami tahu alamat panti asuhan dan nomor telpon? Saya dari pengurus lingk.St.Clara Paroki St.Martinus BAndung.

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Pemerintah berpihak pada FPI menentang pernikahan beda agama
  2. Paus Fransiskus beatifikasi mendiang Paus Paulus VI
  3. Meneropong keberagaman agama lewat media
  4. Para uskup isyaratkan untuk mengubah dokumen akhir Sinode
  5. Tokoh JIL Ulil Abshar Abdalla dilarang masuk Malaysia
  6. Pemimpin Baru dan Harapan Perubahan
  7. Romo Benny: Basuki harus dialog dengan para penentangnya
  8. Negara tidak boleh diam terkait aksi anarkis berbau agama
  9. Pengadilan Pakistan pertahankan hukuman mati terhadap seorang ibu Kristen
  10. Uskup Agung Karachi: Kasus Asia Bibi menunjukkan intoleransi bertumbuh
  1. Sinode berakhir dengan mempertegas ajaran Gereja
  2. Meneropong keberagaman agama lewat media
  3. Paus Fransiskus beatifikasi mendiang Paus Paulus VI
  4. Pemimpin Baru dan Harapan Perubahan
  5. Jokowi-JK bersumpah pegang teguh UUD 1945
  6. Uskup Agung Kuala Lumpur fokus pada kaum muda
  7. Fransiskan India memerangi kekerasan terhadap perempuan
  8. Uskup Peraih Nobel Perdamaian doakan Jokowi-JK dalam Surat Terbuka
  9. Para pemimpin agama ASEAN bahas perdamaian
  10. SBY dinilai gagal membebaskan perempuan dari kemiskinan
  1. Jangan terlalu berharap kebaikan dari DPR yang baru.. Teringat "kucing yang seda...
    Said on 2014-10-10 05:27:00
  2. Korupsi dana pendidikan jangan mengabaikan modus pelaku pada tingkat sekolah: ke...
    Said Lakestra on 2014-10-09 09:15:00
  3. Umat tak butuh statement, tapi kebijakan. Apa yang dapat Gereja bantu terhadap m...
    Said Brian Susanto on 2014-10-09 04:48:00
  4. Bukan saja tidak mendiskriminasi keberadaan agama (yang ada sekarang) tetapi jug...
    Said on 2014-10-07 08:28:00
  5. Yang berbelaskasih menghadapi ahli hukum gereja.. mengingatkan pada Yesus yang m...
    Said on 2014-10-07 08:08:00
  6. Masuk penjara seperti Santo Paulus, demi keadilan dan kerajaan Allah.. syukur bu...
    Said on 2014-10-07 07:52:00
  7. Sangat disayangkan, tidak dimuat apa masalah pokoknya, apa saja yang dituduhkan...
    Said Brian Susanto on 2014-10-07 07:13:00
  8. Konflik sepihak itu (kan tidak ada yang membalas kalau dari kalangan Kristen), s...
    Said on 2014-10-01 14:52:00
  9. Kita semua tertipu. Yang dikira dapat dipercayai pemerintahan yang baik ternyat...
    Said on 2014-09-30 10:19:00
  10. @donotchangemyname: baca dokumen2 Gereja yg terkait dgn hal tsb. Prinsip dan huk...
    Said Antonio on 2014-09-27 01:06:00
UCAN India Books Online