
Para pemimpin kelompok minoritas marah dan menuduh pemerintah propinsi Sindh melakukan diskriminasi agama dalam upaya penyelamatan dan pemberian bantuan untuk jutaan korban banjir bandang.
“Aarga desa Ahmadi, yang terjebak dalam banjir, diabaikan. Mereka dilarang ke kamp-kamp bantuan pemerintah,” kata juru bicara Ahmadi Saleem-ud-din .
Anggota kasta Hindu tidak diberi makan dan minuman, dan kebanyakan dari mereka dipaksa untuk tinggal di pinggir jalan karena mereka [dianggap] ‘tidak tersentuh’,” kata Saleem-ud-din, jubir warga Ahmadi.
“Kami harus menyewa beberapa perahu untuk menyelamatkan sekitar 370 Ahmadi dan orang lain,” katanya.
Sekitar 50.000 Hindu dan 1.500 Ahmadi termasuk diantara lebih dari 5 juta orang yang terkena oleh hujan lebat dan banjir di provinsi Sindh bagian selatan.
Presiden Asif Ali Zardari mendesak laporan dari propinsi itu setelah adanya laporan media bahwa organisasi-organisasi tidak mau memberi bantuan kemanusiaan kepada orang -orang Dalit.
“Diskriminasi berdasarkan kasta, keyakinan atau agama dalam operasi penyelamatan, bantuan, dan rehabilitasi tidak dapat diterima. Malapetaka yang disebabkan oleh banjir ini merupakan bencana kemanusiaan tidak ada kaitannya dengan partisan atau agama,” kata juru bicara presiden.
Kelompok Ahmadiyah telah menyalurkan lebih dari 500 kelambu, 460 tenda, 350 saringan air dan membangun 23 kamp medis. Komunitas Muslim, yang dicap sebagai ajaran sesat itu, saat ini menyediakan makanan untuk 620 keluarga di desa-desa terkena banjir.
Vikjen Keuskupan Hyderabad Pastor Simson Shukardin, mengatakan kelompok-kelompok minoritas sering terdiskriminasi saat bantuan banjir setiap tahun.
“Kami menerima permintaan bantuan dari semua paroki kami. Karitas Pakistan dan para imam sedang coba membantu korban banjir secara individu,” kata imam Franciskan yang berencana membawa 1.000 paket makanan kepada korban selamat dari banjir minggu depan.
LINK: Minorities call for government flood aid
