
Sebuah LSM bekerja sama dengan beberapa kelompok meluncurkan sebuah petisi untuk melawan terorisme dan memperingati bom Bali tahun 2002. Kampanye itu menargetkan sejuta tandatangan di atas kafan sepanjang 200 meter.
Petitis itu dimulai oleh Lazuardi Biru, yang didirikan tiga tahun lalu untuk mengadvokasi non-violence dan pluralisme, bekerja sama dengan Asosiasi Korban Bom Indonesia (ASKOBI) dan Forum Komunikasi Eks-Pejuang Afghan di Indonesia (FKEAI).
Forum itu memulai petisi dengan membubuh tandatangan di atas kain kafan berukuran 200 meter kemarin selama konferensi pers di Park Royal Apartment di Jakarta Selatan.
Menurut ketua Lazuardi Birru, Nugroho Wahyujatmiko, kampanye itu akan mengumpulkan tandatangan dari masyarakat di tempat publik seperti universitas dan stasiun kereta api hingga hingga 12 Oktober.
Bom Bali menewaskan 202 orang dan mencederai lebih dari 400 lainnya.
Wahyujatmiko mengatakan kampanye yang menargetkan satu juta tandatangan itu bertujuan membangkitkan kesadaran tentang serangan teror dan mendorong masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan kerukunan, perdamaian dan toleransi.
Juga berbicara dalam konferensi pers itu adalah Nasir Abas, mantan kelompok jihad Afganistan dan juga mantan pemimpin Jemaah Islamiah, dan Ahmad S dari FKEAI.
“Terorisme, apapun alasannya adalah tidak bermoral dan tidak berperikemanusiaan,” kata Abas.
Ahmad menambahkan bahwa terorisme tidak bisa disederhanakan hanya sebagai persoalan hukum dan keamanan semata.
“Kita tidak akan dapat memberantas kejahatan terorisme sampai tuntas tanpa mencabut akar permasalahannya, yaitu ideologi, doktrin, atau paham yang mendorong para teroris melakukan aksinya,” katanya.