
Solidaritas Bhinneka Tunggal Ika menilai bahwa selama di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, kebebasan beragama semakin tidak dilindungi.
Zuhairi Misrawi dari Solidaritas Bhinneka Tunggal Ika dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (29/9) mengatakan, toleransi beragama semakin buruk di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Agama Surya Dharma Ali.
“Di tengah isu reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, kita dikejutkan oleh dua peristiwa yang merusak citra Indonesia yang toleran yakni adanya bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh di Solo dan kericuhan di Ambon akibat tewasnya seorang tukang ojek yang kemudian dimanfaatkan untuk memicu keributan antar kelompok,” kata Zuhairi seperti dikutip Kompas.com.
Menurut dia, kedua peristiwa itu menunjukkan buruknya kinerja pemerintah dalam mengantisipasi konflik dan terorisme serta kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Buruknya perlindungan terhadap kelompok minoritas mengakibatkan pelaku kekerasan atas nama agama yang anti-demokrasi dan konstitusi seakan mendapat tempat dan legitimasi di negeri ini.
Zuhairi mengutip riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang mengungkapkan persetujuan publik untuk menggunakan kekerasan dalam persoalan antar-agama pada tahun 2005 tercatat 15 persen dan pada tahun 2010 angka tersebut melonjak menjadi 30 persen.
Dalam riset kualitatif LSI juga tergambar kelompok minoritas semakin merasa tidak dilindungi pemerintah. Penganut Ahmadiyah diburu di banyak tempat, rumah ibadah agama minoritas juga dibiarkan dirusak.
Selengkapnya: Kebebasan Beragama dan Publik Semakin Tidak Dilindungi