
Sejumlah pimpinan generasi muda lintas agama mengisi momentum hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober dengan dengan mendeklarasikan Forum Komunikasi Pemuda Umat Beragama (FKPUB) di Bukit Kasih Kanonang Kawangkoan, Minahasa, di depan Monumen yang menjadi simbol kerukunan antar umat beragama di Sulawesi Utara.
Deklarasi FKPUB ini sendiri, puncak dari rangkaian kegiatan Sarasehan Peningkatan Wawasan Pemuda, dengan mengangkat tema, “Membangun Budaya Damai dan Anti Kekerasan” yang diadakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI bersama Komunitas Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (KPMI).
Beberapa tokoh agama yang hadir dari GBI Pendeta Teddy Batasina (KGPM), Pastor Madeyono Pr (Katolik), Honny Lionardy (Buddha), Weda Manoaba (Hindu), dan Mohamad Arifin (Islam).
Para tokoh agama membawakan peragaan pantomim yang mengajak kekuatan pemuda untuk memerangi kekerasan dan terorisme, yang sedang marak terjadi di masyarakat.
Damai itu tidak melulu tanpa perang, damai itu harus diwujudkan dalam tata tertib sekalipun dalam perbedaan. Saling percaya dan rela berbagi semangat dan daya kreasi. Budaya damai dapat kita ciptakan dalam keragaman,” ungkap Pastor Madeyono, mewakili para tokoh agama.
Puncaknya, perwakilan pemuda lintas agama, organisasi ekstra kampus, dan aktivis pemuda diundang ke tangga Bukit Kasih yang dijadikan podium menghadap ratusan pemuda dan undangan. Yoseph Ikanobund dari pemuda Katolik, membacakan deklarasi bersama.
Deklarasi yang terdiri dari 10 butir itu termasuk, mengecam aksi premanisme, vandalisme, terorisme, dan segala bentuk tindakan kekerasan baik fisik maupun psikis, yang mencederai rasa dan nilai kemanusiaan.
Mereka mengajak seluruh lapisan warga bangsa terutama elemen pemuda untuk senantiasa memupuk, membina dan menjaga kerukunan antar umat beragama.
“Merevitalisasi peran vital pemuda untuk aktif dalam setiap kegiatan-kegiatan yang mengarah pada penumbuhan budaya damai dan anti kekerasan di seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat,” kata mereka.
Menurut mereka, mengembangkan kurikulum pendidikan yang berbasis karakter, wawasan nusantara, berorientasi pada penghargaan atas kebhinekaan, serta beralaskan prinsip toleransi, solidaritas dan saling menghargai antara umat beragama.