
Paus Benediktus XVI mendesak para pemimpin dunia untuk mencapai kesepakatan mengenai perubahan iklim, mengingat kebutuhan masyarakat miskin dan generasi mendatang.
Paus menyampaikan pernyataan itu pada 27 November di Vatikan, sebelum para pejabat dari 194 negara akan memulai pertemuan di Durban, Afrika Selatan, untuk membahas langkah-langkah selanjutnya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan menghentikan suhu global yang terus meningkat.
“Saya berharap bahwa semua anggota komunitas internasional bisa mencapai kesepakatan dan mendukung fenomena alam yang kompleks dan mengkhawatirkan ini, dengan mengingat kebutuhan populasi miskin dan generasi mendatang,” kata Paus itu.
Pertemuan yang berlangsung hingga 9 Desember itu, adalah serangkaian tindak lanjut dari Protokol Kyoto 1997, yang mana negara-negara industri diwajibkan mengurangi emisi gas rumah kaca dengan jumlah tertentu. Pertemuan Durban dianggap penting dalam menambah komitmen.
Pertemuan yang diselenggarakan oleh Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim bertujuan untuk mengurangi efek gas rumah kaca sebesar 50 persen di tahun 2050 dan mencegah kenaikan suhu lebih dari 2 derajat Celcius.
Kardinal Oscar Rodriguez Maradiaga dari Honduras, ketua Caritas Internasional, memimpin delegasi Caritas beranggotakan 20 orang untuk menghadiri pertemuan Durban itu guna menekan tercapainya kesepakatan atasnama negara-negara miskin yang telah sangat berdampak akibat perubahan iklim.
“Iklim kita berubah. Organisasi-organisasi Caritas menangamati kondisi cuaca ekstrim yang dialami di seluruh dunia. Tahun ini kami melihat banjir di Amerika Tengah dan Selatan serta Asia Tenggara dan kekeringan di Afrika Timur,” kata Kardinal Rodriguez dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Caritas.
“Tindakan mendesak diperlukan. Para negosiator iklim di Durban tidak boleh menunda kesepakatan melalui undang-undang internasional untuk mengekang ancaman perubahan iklim dan mengatur dunia menuju masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan,” katanya.
“Seluruh dunia rentan terhadap perubahan iklim, tetapi negara-negara miskin lebih berdampak,” kata Kardinal Rodriguez. “Afrika adalah salah satu benua yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim tersebut. ”
Paus Benediktus mengatakan ajaran Gereja tentang lingkungan berdasarkan prinsip bahwa pria dan wanita adalah kolaborator dengan Tuhan dan ciptaan-Nya, katanya.
“Fakta, hal itu hingga sekarang jelas bahwa tidak ada masa depan yang baik untuk kemanusiaan atau untuk bumi kecuali kita mendidik semua orang menuju gaya hidup yang lebih bertanggungjawab terhadap dunia,” katanya.
Ia mengatakan pendidikan untuk tanggung jawab lingkungan harus dimulai dari dalam keluarga dan sekolah-sekolah serta harus mencerminkan ajaran Gereja yang menghormati manusia dalam semua tahap kehidupan dan bergandengan tangan menghormati alam.
Sumber: Pope urges international agreement on climate change