Gubernur NTT Fransiskus Lebu Raya mendesak umat Kristiani di daerah ini untuk tidak terpancing terhadap isu-isu menyesatkan yang disebarkan melalui SMS, tentang ancaman Malam Natal di Kota Kupang.
“Rupanya ada orang yang tidak suka atau tidak senang melihat daerah ini aman dan terpeliharanya kerukunan hidup antarumat beragama. Isu serupa juga pernah beredar tahun lalu menjelang Natal,” kata Lebu Raya kepada wartawan di Kupang, Selasa, 29 November.
Menurut Lebu Raya, selain masyarakat diimbau untuk tidak terpancing terhadap isu-isu yang menyesatkan itu, kepada umat Kristiani juga diminta untuk senantiasa waspada serta mempersiapkan diri menyongsong Hari Raya Natal.
Masyarakat NTT, lanjutnya, sudah sering direcoki dengan isu-isu yang menyesatkan seperti itu, namun kerukunan hidup antarumat beragama di daerah ini masih tetap terpelihara dan dijaga dengan baik.
“Kerukunan hidup antarumat beragama di NTT tidak hanya sebatas ucapan belaka, tetapi ditunjukkan lewat tindakan nyata. Bukan hal yang asing, jika pemuda Masjid ikut menjaga keamanan pada malam Natal, atau pemuda Kristen dan Katolik terlibat dalam pawai takbiran atau menjaga keamanan saat umat Islam menjalankan sholat Idul Fitri,” tambahnya.
Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT H. Jamaludin Achmad mengatakan, isu-isu seperti itu bukanlah hal baru yang terjadi di daerah ini. Meski demikian, masyarakat NTT perlu tetap waspada terhadap ulah para provokator yang tidak ingin daerah ini aman.
“Menjaga dan mempertahan kerukunan hidup antarumat di NTT adalah tanggung jawab seluruh masyarakat. Masyarakat perlu menjaga dan membentenginya dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Ini adalah kata kunci dalam menjaga kerukunan hidup antaraumat beragama,” kata Jamaludin, yang juga ketua Nahdatul Ulama NTT.