
Sebuah tambang Australia mengatakan pihaknya telah menghentikan eksplorasi emas di Sumbawa setelah tiga orang ditembak mati oleh polisi pada akhir pekan lalu selama aksi protes di pelabuhan Sape.
Sementara itu puluhan mahasiswa di Kupang, NTT, melakukan protes dengan aksi mogok makan akibat penyerobotan lahan dan apa yang mereka sebut sebagai pertambangan yang tidak bertanggung jawab.
Para mahasiswa dari sejumlah universitas, termasuk para anggota Perhimpunan Hamasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), yang tergabung dalam Persatuan Anti Kolonialisme (PAK), mengadakan aksi mogok makan tersebut hingga 30 Desember.
“Hentikan perampasan tanah milik warga, dan usut tuntas kasus penembakan terhadap warga di Bima,” kata Willibrordus Soeharly Willibrordus Soeharly, koordinator PAK, yang mengacu pada penembakan polisi terhadap para pemerotes anti tambang yang memblokade akses ke pelabuhan Sape di ujung timur pulau itu.
Para mahasiswa juga menuduh pemerintah menghina rakyatnya sendiri seperti di Papua, Mesuji, Bima, dan daerah lainnya dimana pertambangan yang kontroversial terus dibangun.
Muhammad Ishak dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mendesak polisi untuk menghentikan penganiayaan dan penembakan terhadap para pemerotes anti tambang. “PAK menuntut penghentian sementara seluruh aktivitas pertambangan di NTT,” kata Ishak.
Pertambangan tidak bertanggung jawab itu merupakan problem bangsa dan telah menyatukan semua aktivis lingkungan, katanya.
Para mahasiswa itu mengatakan pembunuhan di Sumbawa menunjukkan kegagalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur dan aparat penegak hukum untuk melindungi rakyat mereka sendiri.
Sumber: Miner on hold as students start fast