
Mendung mengatapi bumi Paroki Halehebing di kecamatan Mapitara, Flores, tatkala iring-iringan kendaraan rombongan Uskup Maumere Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD dan Bupati Sikka Drs. Sosimus Mitang menapaki tanah Hebing. Sesaat kemudian terdengar musik Gong Gendang bertalu merdu tanda rombongan yang dinanti sejak pagi itu memasuki pelataran Gereja Paroki Renha Rosari Halehebing. Terlihat enam orang ibu dari stasi Lere mementas tari Papak menjemput rombongan persis di depan gapura.
Dari pelataran pastoran, datang dua wanita usia sebaya berjalan beriringan menuju gapura penjemputan rombongan. Mereka berpakaian adat lengkap khas orang Halehebing itu menanti rombongan persis di pintu gapura penjemputan.
Para tamu diterima dengan pengalungan selendang kain tenun ikat setempat yaitu kepada Uskup Kherubim, Bupati Mitang dan Wakil Ketua DPRD Sikka Drs. Feliks Wodon.
Misa syukur perayaan HUT Emas Paroki Halehebing itu diadakan pada 18 Desember.
Di hadapan ribuan umat paroki Halehebing, Uskup Kherubim dalam khotbahnya mengatakan Paroki Renha Rosari ini sudah lima puluh tahun berjalan meski terletak di wilayah yang jauh dan terpencil dari keramaian kota Maumere.
Dalam membangun gereja ini umat telah patuh dan taat serta juga berhasrat kuat untuk membangun gerejanya. Keterpencilan bukan menjadi alasan, dan karena kepatuhan pada kehendak Allah maka umat dapat berkembang dari waktu ke waktu selama 50 tahun ini.
Bagi para pemimpin di wilayah Paroki Halehebing, Uskup mengingatkan mereka harus yakin bahwa semuanya adalah kehendak Tuhan. “Kita harus dengar suara Tuhan untuk membangun gereja ini. Selain itu, imam-imam dari paroki ini juga masih sangat kurang karena itu semoga lima puluh tahun ke depan akan ada lebih banyak imam berasal dari paroki ini”, Uskup Kherubi menegaskan.
Uskup Maumere mengatakan mendukung sepenuhnya upaya umat untuk merenovasi gedung gereja paroki. Tetapi untuk meningkatkan kehidupan umat di sini hanya melalui pendidikan dan ketrampilan. Uskup menyampaikan rencana bahwa tahun 2014 keuskupan Maumere akan mendirikan politeknik di Maumere bekerja sama dengan ATMI Solo. Tujuannya supaya teknologi masuk Maumere yang dimulai dengan teknik mesin, agrobisnis dan pariwisata.
Ketua Panitia Simon Subsidi mengatakan gereja paroki ini dibangun pada tahun 1961 oleh Pater Antonius van Stiphout SVD.
Menurut Simon, gereja ini dibangun di atas penderitaan rakyat karena melalui swadaya umat semua kebutuhan bahan bangunan dibawa dari Bola dan Waigete juga di pantai pelabuhan sederhana Liat. Semua dilakukan umat dengan iklhas dan sukacita, dengan membawa bahan-bahan bangunan sambil berjalan kaki. Karena pada masa 50 tahun lalu itu, belum ada jalan raya dan kendaraan darat.
Selain Pastor Paroki van Stiphout yang membangun gereja tersebut, sejumlah tokoh yang sangat berperan adalah Kapitan Andreas Leo sebagai kepala pemerintahan bersama para kepala kampung dari wilayah kecamatan Doreng pada masa itu. Meskipun gedung gereja ini belum direnovasi namun, menurut Simon, acara pesta ini tetap dilaksanakan untuk mengenang dan merayakan genap 50 tahun usia paroki Renha Rosari Halehebing.
Sedangkan untuk merenovasi gedung gereja ini pastor paroki dan panitia pembangunan telah mencanangkan suatu upaya pengumpulan dana yang disebut GESER (Gerakan Seribu Rupiah) setiap hari, yaitu seruan kepada setiap orang atau kepala keluarga untuk setiap hari menyisihkan uang Rp. 1000 untuk disumbangkan bagi renovasi gereja.
Pada gilirannya Bupati Sikka Drs. Sosimus Mitang mengatakan, ia juga ikut berpartisipasi bersama umat di sini dalam GESER. “Saya bantu Rp. 50 juta untuk pembangunan paroki ini supaya lebih maju. Saya salut dengan keberanian umat ini yang sudah sangat luar biasa.
Pastor Paroki Halehebing Romo Bajo mengemukakan paroki ini terdiri dari 5 Stasi, 17 Lingkungan dan 46 Komunitas Umat Basis dengan jumlah umat 9.000 jiwa. Dalam hal panggilan hidup membiara, Tuhan dengan caranya tetap menyentuh hati setiap pemuda dan anak-anak yang mau mengikuti panggilan Tuhan untuk menjadi imam maupun biarawan-biarawati. Saat ini tercatat 2 orang Imam, 10 Suster, 6 Calon Suster, 3 Frater, 1 Frater BHK dan 7 Seminaris.
Pastor John Bajo mengharapkan bahwa dengan adanya perubahan sistem berparoki ini maka akan terwujud Komunitas Umat Basis (KUB) sebagai komunitas iman, harap, kasih yang hidup dari Sabda dan sakramen, mandiri, integratif, partisipatif dan transformatif.
Oleh Ans Gregory da Iry di Sydney