
Di sebuah sekolah milik yayasan Budha, berdiri mushola kecil dan siswa-siswi Muslim bisa mengaji di dalamnya. Saat Idul Adha, dibantu siswa lain, mereka menyembelih hewan Qurban. Di bulan Desember, Pohon Natal didirikan bersama-sama.
Belasan siswa beragama Hindu mendapat kesempatan pendalaman agama, sama seperti kesempatan yang dimiliki siswa-siswa Budhis, mayoritas di sekolah itu. Reporter KBR68H Arin Swandari mengunjungi sekolah itu, sekolah Pembauran Ananda di Bekasi Timur.
Sembilan anak kelas satu SD Ananda di Bekasi Timur sedang menghafal surat An Nasr dari Al’Quran di mushola.
Di ruangan lain, I Made S Putra sedang duduk berhadapan dengan Ni Made Suardhana. Ni Made satu-satunya murid kelas satu yang beragama Hindu.
Meski hanya satu siswa yang memeluk agama tertentu, pelajaran agama yang dianut murid itu tetap diadakan. I Made S Putra, guru agama Hindu, mengatakan, semua siswa mendapat fasilitas dan hak yang sama. Tak ada perbedaan untuk minoritas.
“Sebagai sekolah yang plural, semua agama ada di sini kecuali Khonghucu, karena baru diresmikan. Dan hak bagi semua murid dari semua agama berhak mendapat pelajaran agama di sini. Meskipun hanya satu seperti tadi, murid saya kelas satu. Tahun lalu, ada kelas enam juga hanya satu, tetap saya mengajar, meski hanya satu sekalipun.”
I Made mengungkapkan, jumlah murid SD hingga SMA Ananda yang beragama Hindu adalah 13 orang. Masing-masing mendapatkan pelajaran agama Hindu sekali seminggu, sama seperti murid-murid beragama Budha yang jumlahnya lebih dari 1.000 orang.
Sekolah Ananda dikelola Yayasan Budha Pancaran Tridharma. Ketua Bidang Pendidikan Yayasan, Eriyani mengatakan, jika kelak ada siswa beragama Khonghucu mendaftar di sekolah ini, sekolah akan juga akan menyediakan guru agama Khonghucu.
“Agama Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katolik juga ada. Jadi semua guru agama difasilitasi dan pelajaran agama juga diberikan. Kalau nanti ada yang Khonghucu kenapa tidak? Kalau nanti diminta oleh umat kita akan pertimbangan dan sediakan.”