
Sekitar 500 orang menghadiri rapat dan diskusi publik di Khagrachhari, tenggara Chittagong Hill Tracts (CHT) untuk menandai Hari Kusta se-Dunia.
Acara ini diselenggarakan oleh Chittagong Leprosy Control Mission, bagian dari The Leprosy Mission Internasional (TLMI), sebuah LSM yang bekerja untuk meningkatkan kesadaran tentang diagnosis dan pengobatan penyakit tersebut.
Organisasi Kesehatan se-Dunia (WHO) menyatakan negara itu bebas dari kusta 13 tahun lalu, namun penyakit ini muncul lagi di daerah terpencil dan miskin serta ibukota Dhaka.
Wakil Komisaris Distrik Anisul Haque mengatakan CHT adalah “diantara tempat yang paling berisiko untuk kusta, karena orang-orang suku [tak menyadari] tentang kusta serta penyakit lainnya.”
Mereka tetap mengangap kusta sebagai sesuatu yang takhayul, katanya, dan melihat penyakit itu sebagai akibat dosa.
“Saya meminta Anda tidak menyembunyikan penyakit tersebut dan silahkan datang ke pusat-pusat kusta untuk mendapat pengobatan,” desak Haque.
Sanay Tripura, 42, seorang Katolik Tripura dan petugas medis TLMI setempat, mengatakan ada sekitar 4.500 penderita kusta di negara itu saat ini.
Dia mengatakan CHT adalah salah satu tempat yang paling berisiko untuk penyakit tersebut, dengan perbandingan sekitar 1:10.000.
Di barat laut distrik Dinajpur terdapat sekitar 100 mantan pasien kusta berkumpul untuk menandai hari kusta itu, yang akan jatuh pada 7 Februari.
Menurut TLMI, 3.800 kasus ditemukan tahun lalu, termasuk 732 kasus di kota Dhaka. Sebuah laporan lain mengatakan banyak orang menyembunyikan penyakit untuk menghindari stigma dari masyarakat.