
Para pemimpin lintas agama di Nepal untuk pertama kalinya kemarin menandai Pekan Kerukunan Umat Beragama Internasional dengan mengadakan pertemuan dan menyerukan perdamaian abadi, namun negara itu tetap mematuhi prinsip-prinsip sekuler.
“Kami berdoa agar semua bisa belajar untuk memberi dan menerima pengampunan setelah semua kekerasan yang telah kita lalui,” kata Pastor Bill Robins pada awal pertemuan di aula akademi nasional di Kathmandu.
Pertemuan itu diselenggarakan bersama untuk menandai pekan khusus yang diprakarsai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang akan berakhir besok, yang diadakan oleh Federasi untuk Agama dan Perdamaian.
Sekitar 300 orang menghadiri acara itu di mana pesan dari Ketua Majelis Umum PBB, Nassir Abdulaziz Al-Nasser, dibacakan.
“Kami telah menjadi negara sekuler dan perilaku kami harus mencerminkan prinsip ini sehingga kami meningkatkan persatuan di antara berbagai agama dan tidak menimbulkan konflik,” kata Kulchandra Gautam, mantan wakil Sekjen PBB.
“Kami merasa malu untuk mengatakan bahwa kami berasal dari sebuah negara dimana Buddha Gautama lahir karena sejumlah pemimpin politik kami masih mengklaim bahwa mereka akan membawa perubahan di Nepal melalui kekuatan bersenjata,” katanya.
Dia menambahkan: “Para pemimpin lintas agama harus berperan pro-aktif untuk menciptakan perdamaian karena para politisi tidak dapat membawanya dan berjuang untuk kepentingan diri mereka sendiri.”
Sumber: Interfaith leaders mark harmony week