
Ricky (bukan nama sebenarnya) mulai subuh berangkat menuju sebuah tambang dengan membawa alat-alat seperti sekop dan ember.
Dia kemudian masuk ke dalam salah satu dari 200 terowongan tambang emas Warik-warik dekat desanya di Filipina selatan.
Lahir dari keluarga miskin, Ricky tidak memiliki pilihan lain selain bertahan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapat upah 40 peso (sekitar US $ 1) per hari.
Sejak berumur 13 tahun, Ricky bekerja sebagai “abantero” (penggali), selama lebih dari tiga tahun di desa Balabag.
Dia merupakan salah satu dari 100 pekerja anak yang bekerja keras di perbukitan emas yang kaya itu, yang mempekerjakan sekitar 2.000 buruh.
“Saya ingin pergi ke sekolah, tetapi orang tua saya tidak mampu,” kata Saidin dalam bahasa lokal.
Dia mengatakan terowongan tambang dengan panjang 100 meter itu adalah lahan bermainnya. “Awalnya saya takut karena saya hampir tidak bisa bernapas. Tapi, sekarang saya sudah terbiasa,” katanya. Dia bekerja di dalam terowongan itu mulai pukul 08.00 hingga 22.00 malam.
Para penambang muda Balabag diantara 2,4 juta anak yang diperkirakan berusia dari sembilan hingga 17 tahun yang “dipekerjakan” di seluruh negeri itu, demikian data Organisasi Buruh Internasional (ILO).
Senator Allan Peter Cayetano, ketua Komite Senat tentang Etika dan Hak Istimewa, telah mengungkapkan keprihatinan bahwa lebih banyak pekerja anak dibandingkan seperti yang dilaporkan, terlibat di berbagai sektor berbahaya termasuk pertambangan.
“Kita perlu lebih banyak agen pemerintah guna menyelidiki industri-industri yang mempekerjakan pekerja anak dan di tengah masyarakat dimana orang tua diketahui memaksa anak-anak mereka bekerja,” kata senator itu.
Namun, seorang operator pertambangan lokal mengatakan tidak ada anak yang bekerja di pertambangannya.
“Kami tidak mempekerjakan mereka. Mereka dibawa oleh orang tua mereka yang bekerja di perusahaan kami untuk mengangkut biji besi,” kata Julieto Munding, operator pertambangan di kota Balabag.
Dia menyalahkan pemerintah karena tidak memberitahu orang tua agar tidak mempekerjakan anak-anak mereka di pertambangan.
Sekretaris Serikat Buruh Rosalinda Baldoz mengatakan ia sudah meminta para pejabat setempat untuk menyelidiki kasus yang dilaporkan terkait pekerja anak.
“Kami menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat dalam menjelaskan dan mencegah pekerja anak serta perekrutmen anak di bawah umur secara ilegal,” katanya.
Namun, bagi Ricky menggali bijih emas bukanlah pilihan, tapi sebuah kebutuhan. Dia mengatakan dia harus mencari nafkah. “Saya tahu risikonya, tapi saya tidak mempunyai pilihan selain bekerja.”
Sumber: Children labor in Philippine mines
Vatikan tolak klaim bahwa Paus melakukan upacara pengusiran setan
Era reformasi, intoleransi meningkat
Para lansia mengalami cedera akibat bentrok dengan polisi