
Bermula dari pertemuan di Jejaring Sosial untuk mengajak orang menolak praktek korupsi, sebanyak 30 pelajar SD hingga SMA di Jogja mendeklarasikan diri mereka sendiri untuk menjadi “duta anti korupsi”.
Duta anti korupsi dari SMA Santa Maria, Elizabeth Febriani, mempunyai alasan sendiri mengkampanyekan gerakan anti korupsi melalui jejaring sosial, seperti Facebook. Lewat jejaring sosial ini, mereka bisa menyampaikan kritik terkait persoalan korupsi di tanah air.
“Kami membuat grup di dunia maya, yaitu facebook sebagai gerakan menolak korupsi. Dalam grup itu mereka mengirimkan wall dan komentar mereka tentang korupsi itu sendiri. Diharapkan selain menulis komentar, mereka juga menulis dihati mereka bahwa korupsi tidak baik untuk dilakukan. Selain itu kami saat ini juga menggalang 1.000 tanda tangan para pelajar SD, SMP dan SMA,” katanya seperti dilansir kbr68h.com.
Rencananya para pelajar ini menargetkan ajakan anti korupsi di jejaring social tahun ini mampu mencapai 10 ribu dukungan.
Selain di dunia maya, duta anti korupsi juga punya kiprah mengkampanyekan gerakan anti korupsi di alam nyata. Misalnya, seperti kegiatan menanam pohon kepel di kantor dinas Gubernur Yogyakarta.
Menurut Duta Anti Korupsi Sekarsoca, pohon Kepel ditanam untuk mengingatkan gubernur untuk tidak korupsi. Pohon Kepel juga menjadi pengingat para pelajar untuk menabukan tindakan korupsi.
“Kita berharap penanaman pohon kepel itu akan ada buahnya yang wangi, dan jika nanti matang akan menjadi buah yang enak. Sama juga seperti kita, sedari kecil kita mulai belajar secara bertahap jika kita dewasa nanti agar kita lebih baik dibandingkan pendahulu kita. Dan kita dapat lebih baik dalam menjalankan amanat rakyat kita jika menjadi DPR dan yang lain,” katanya.
Kegiatan lain yang para duta anti korupsi lakukan adalah menanam gentong yang berisi janji mereka untuk tidak korupsi. Rencananya gentong tersebut akan mereka buka kembali 15 tahun mendatang, untuk melihat apakah mereka masih berkomitmen terhadap aksi penolakan korupsi.
Koordinator Duta Pelajar Anti Korupsi Fembry juga punya target lain. Tahun ini dia menargetkan para duta untuk menerbitkan buku yang mengisnpirasi para pelajar untuk mengkampanyekan gerakan anti korupsi.
“Jadi nanti akan ada 30 duta yang menulis, nah isinya nanti tentang tokoh – tokoh anti korupsi di Indonesia, pohon anti korupsi, lalu opini mereka tentang korupsi itu apa, lalu mereja juga akan mewawancarai tokoh penting tentang pandangan mereka tentang korupsi. Nah buku ini diharapkan menjadi inspirasi bagi pelajar dan masyarakat,” katanya.
Buku itu rencananya akan diserahkan kepada Presiden SBY. Jika para pelajar bisa bertemu dengan Presiden nanti, mereka akan mendesak pemerintah untuk menetapkan satu hari khusus sebagai hari anti korupsi di Indonesia.
Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM Zainal Arifin Muchtar berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap gerakan duta anti korupsi.
“ Ada banyak keunggulannya, ya. Mereka muda, artinya mereka bisa menjadi pelopor, mereka bisa menjadi benih, dan dapat menjadi simbol bagi anak muda yang lain, untuk melakukan hal-hal yang sepele mulai dari bawah misalnya memberantas budaya nyontek, budaya korupsi kecil-kecilan di tingkat kampus.
Negara harus berperan, kita harus berperan, pemerintah daerah juga. Makanya fasilitasi menjadi penting , kalau pemerintah pusat atau daerah melihat itu sebagai sesuatu yang baik maka bisa didorong mereka untuk menjadi cikal bakal , menjadi pelopor, dan mereka menjadi pembawa obor.”
Paus Fransiskus mohon doa untuk Cina
HRWG: Bila tetap menerima 'Statesman Award', SBY menipu diri sendiri
Uskup Vietnam dan VIP mendesak bebaskan para aktivis