
Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) dan World Wide Fund for Nature (WWF) mendistribusikan 1.644 buku pelajaran untuk 10 sekolah dasar di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Koordinator Pengajar Muda Angkatan IV Gerakan Indonesia Mengajar, Cantika, Senin (9/7/2012), mengatakan, donasi buku dari masyarakat yang diorganisasi oleh WWF diharapkan akan memberi inspirasi masyarakat di tempat lain.
“Dari gerakan ini kami percaya bahwa kita masih memiliki optimisme untuk maju,” kata Cantika.
GIM pada dasarnya bertugas untuk mengisi kekosongan guru sekolah dasar, terutama di daerah terpencil. Para peserta GIM, yakni lulusan dari perguruan tinggi difasilitasi untuk tinggal dan mengajar di wilayah terpencil.
Project Leader Kapuas Hulu, WWF-Indonesia Program Kalbar, Albertus Tjiu, mengatakan, penggalangan buku dilakukan melalui Borneo Festival, April lalu di Jakarta. Buku pendidikan yang diterima berjumlah 3.953 buku.
Buku yang terkumpul disumbangkan kepada 26 sekolah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah; Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, dan Sambas di Kalbar; dan Samarinda, Kalimantan Timur, terutama sekolah yang berada di sekitar kawasan konservasi.
GIM menginspirasi perubahan untuk mengatasi persoalan pendidikan di Indonesia, terutama masalah ketiadaan guru di daerah terpencil. Bahkan, gerakan ini menjadi salah satu model yang dipelajari di kantor Sekretariat Wakil Presiden untuk mempercepat reformasi birokrasi.
Salah satu kunci keberhasilan dari gerakan ini adalah reformasi yang dimulai dari sarjana yang dikirim untuk menjadi agen perubahan serta pendekatan yang tidak terpaku pada program.
”Kami melihat persoalan guru itu terletak pada kesejahteraan yang tak baik, kualitas yang kurang, serta distribusinya tidak merata. Jika persoalan itu hanya dikritik, tentu tak akan ada habisnya,” kata Ketua Umum Yayasan Indonesia Mengajar Anies Baswedan.
Rektor Universitas Paramadina itu menambahkan, “Kami mencoba menjadi bagian dari solusi dengan langkah yang sederhana, yakni rekrut guru dengan kualitas terbaik dan kirim ke tempat yang terpencil, tetapi tidak seumur hidup.”
Paus Fransiskus pernah tertidur saat berdoa
Warga Filipina di Taiwan minta maaf atas penembakan nelayan
105 tahun Kebangkitan Nasional, Krisis Budi Pekerti