UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Komnas HAM temukan pelanggaran HAM berat pasca G30S/PKI

24/07/2012

Komnas HAM temukan pelanggaran HAM berat pasca G30S/PKI thumbnail

Nurcholis (tengah)

 

Setelah melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan bukti dan memeriksa ratusan saksi selama 4 tahun, Komnas HAM akhirnya menyebut dugaan terjadi kasus pelanggaran HAM berat pasca peristiwa 30 Sepetember 1965 (G30S/PKI).

Sejumlah kasus yang ditemui Komnas HAM yakni penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, penghilangan paksa, sampai perbudakan.

Dugaan pelanggaran HAM berat itu terjadi hampir di seluruh provinsi di Indonesia kecuali Papua. Selama penyelidikan, tim Komnas HAM mewawancari 349 saksi, termasuk para korban dan pelaku yang masih hidup.

Para korban rata rata merupakan orang yang diidentifikasi sebagai pengurus Partai Komunis Indonesia (PKI), simpatisan, dan penduduk sipil yang sama sekali tidak terkait dengan afiliasi politik.

Komnas HAM juga menyatakan pelanggaran HAM berat dilakukan secara sistematis oleh lembaga pemegang otoritas keamanan saat itu yakni Kopkamtib.

“Salah satu unit negara yang patut dimintai pertanggung jawaban adalah Kopkamtib, terutama struktur Kopkatib periode 65, 66, 68 terkait dengan berbagai peristiwa yang terjadi di tempat pemeriksaan dan kemudian struktur Kopkamtib pada 70 sampai 78,” kata Ketua Tim Penyelidikan Komnas HAM, Nurcholis seperti dilansir suarapembaruan.com.

Menurut Nurcholis, Komnas HAM telah menyerahkan berkas penyelidikan, termasuk nama nama korban dan pelaku kepada Kejaksaan Agung untuk ditindak lanjutkan ke proses penyidikan.

Kendati demikian, Komnas HAM mengkhawatirkan upaya hukum kasus ini berhenti di Kejaksaan, seperti kasus pelanggaran HAM yang pernah disampaikan.

Untuk itu, Nucholis menyebut perlunya presiden sebagai kepala negara melakukan intervensi.

“Dapat saja presiden mengintervensi penyelesaian masalah ini, mengingat sensitiftasnya di masyarakat dan kedua masih adanya korban yang menurut Komnas Ham tidak mendapat keadilan,” jelas Nurcholis.

Sementara itu, Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, Bedjo Untung mendesak agar kejaksaan harus tetap melanjutkan proses hukum dari hasil penyelidikan Komnas HAM.

Bedjo yang juga menjadi korban dan pernah ditahan selama sembilan tahun tanpa pengadilan pada periode tahun 70-an menyambut baik hasil penyelidikan Komnas HAM.

Lebih lanjut menurut Bedjo, korban 65 menuntur permintaan maaf dari negara dan rehabilistasi dari Pemerintah. “Hasil penyelidikan Komnas Ham bisa menjadi dasar permintaan maaf dan rehabiltasi,” kata Bedjo.

Seperti diketahui, sebelumnya pemerintah tengah mempertimbangkan kebijakan menyikapi kasus pelanggaran HAM pasca peristiwa 1965.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Bara Hasibuan sempat menyatakan Presiden sudah diberi masukan soal permintaan maaf dan rehabilitasi korban.

Foto: Suara Pembaruan

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Pengadilan Pakistan mendakwa 106 pembunuh pasangan Kristen
  2. Paus menyerukan umat Katolik Tiongkok untuk tetap menjaga kesetiaan mereka
  3. Presiden Xi desak agama-agama di Tiongkok menghindari pengaruh asing
  4. Biarawati Katolik luncurkan kampanye untuk membantu pengungsi Rohingya
  5. Partai Komunis Tiongkok keluarkan peringatan kepada anggotanya yang menganut agama
  6. Tokoh agama: hadapi pengungsi Rohingya, utamakan aspek kemanusiaan
  7. Jumlah umat Katolik kecil di Tibet mungkin dipengaruhi komunis Tiongkok
  8. Gereja menentang otoritas Zhejiang terkait kampanye pembongkaran salib
  9. Paus Fransiskus desak masyarakat internasional bantu ribuan migran Asia
  10. Gereja Katolik terus membantu para korban gempa di Nepal
  1. Sektarianisme telah mengerus kebhinnekaan Indonesia
  2. Para pemimpin Katolik ditahan di Tiongkok
  3. Ratusan biksu radikal Myanmar memprotes ‘tekanan’ internasioal terkait Rohingya
  4. Alkitab dengan kata ‘Allah’ akan dilarang di Semenanjung Malaysia
  5. Dituduh penghujatan, orang Kristen Pakistan enggan pulang rumah, takut diserang
  6. Kardinal Myanmar menyerukan pemerintah untuk bersikap belarasa dan peduli dengan Rohingya
  7. Lebih dari 1.100 orang tewas di India akibat gelombang panas ekstrim
  8. Partai Komunis Tiongkok keluarkan peringatan kepada anggotanya yang menganut agama
  9. Misionaris merajut kembali kebersamaan hidup yang hancur di Mindanao
  10. Paus Fransiskus desak masyarakat internasional bantu ribuan migran Asia
  1. Ya... mengapa tidak? Waktunya "rise and shine"......
    Said on 2015-05-19 08:35:00
  2. Malaysia, Indonesia berlomba membuang migran, ya? Saya bayangkan dipantai laut a...
    Said on 2015-05-19 08:31:00
  3. Sudahlah, jangan (dikirim) bekerja luar negeri, mereka biar di Indonesia, bekerj...
    Said on 2015-05-19 08:16:00
  4. Selamat bekerja. Bersyukur terpilih karena kesempatan untuk menempah diri menjad...
    Said Martin Teiseran on 2015-05-19 04:48:00
  5. Iya, bagaimana ini, televisi begitu "leko"nya memberitakan dan meng-interview ur...
    Said on 2015-05-13 20:53:00
  6. Merupakan masalah bagi migran maupun negara penampung. Bagaimana menerima orang...
    Said on 2015-05-13 07:04:00
  7. Jika membangun rumah, sisihkan tanah untuk taman dan resapan air, tanami satu, ...
    Said on 2015-05-12 19:15:00
  8. Raul harus cepat saja kembali... beliau sudah lansia......
    Said on 2015-05-12 07:07:00
  9. Datang dari Jakarta tentu harus bawa kado.. Lain kali ke Papua saya harap mereka...
    Said on 2015-05-12 06:58:00
  10. Ada baiknya dalam bulan Mei kita berdoa melalui Ratu Segala Bangsa, untuk perlin...
    Said on 2015-05-12 06:49:00
UCAN India Books Online