UCAN Indonesia Catholic Church News
SEASON

PBB tekankan 30 persen keterwakilan perempuan di bidang politik

02/10/2012

PBB tekankan 30 persen keterwakilan perempuan di bidang politik thumbnail

(foto: menegpp.go.id)

 

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP- PA) Linda Amalia Sari Gumelar menghadiri Sidang Majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-67 dengan agenda utama membahas tentang inisiatif Equal Future Partnership (EFP).

Dalam kesempatan yang digelar di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat sejak 24 September itu, PBB menekankan kembali 30 persen keterwakilan perempuan dalam bidang politik di negara anggotanya.

Sekjen PBB Ban Ki-Moon yang membuka pertemuan tersebut menyampaikan bahwa PBB sangat memberikan perhatian terhadap keterwakilan perempuan di lembaganya, baik legislatif, eksekutif maupun yudikatif.

PBB juga menekankan pentingnya meningkatkan representasi perempuan dalam bidang politik maupun hukum, seperti polisi, investigator, hakim, pengacara dan unsur-unsur terkait lainnya minimal 30 persen.

“Tujuan pertemuan ini untuk mendorong negara anggota PBB mempunyai komitmen yang tinggi dalam memperkuat akses perempuan terhadap keadilan. Hampir tiga perempat total penduduk di dunia adalah perempuan,” kata Linda, yang mewakili pemerintah Indonesia dalam pertemuan itu, di Jakarta, belum lama ini.

EFP merupakan kemitraan global yang terinsipirasi dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama ketika menandatangani Deklarasi Partisipasi Perempuan tahun lalu.

Indonesia adalah salah satu dari 13 negara yang menjadi pendiri EFP ini, di antaranya Amerika Serikat, Australias, Benin, Bangladesh, Denmark, Finlandia, Yordania, Belanda, Peru, Senegal, Afrika Selatan,Tunisia, serta Uni Eropa.

Linda mengatakan di bidang politik meskipun ada kemajuan di mana lebih banyak perempuan duduk di legislatif, eksekutif dan partai politik, tetapi jumlahnya belum mencapai 30 persen.

Saat ini, KPP-PA terus berkoordinasi dan mendorong partai politik maupun perempuan untuk mengambil bagian dan memenuhi quota tersebut.

Kontribusi perempuan belum maksimal

Hasil survei “Women Research Institute” (WRI) menyimpulkan anggota DPR RI dari kaum perempuan belum memberikan kontribusi maksimal pada pembuatan kebijakan di lembaga itu.

“Pada rapat-rapat di komisi maupun alat kelengkapan dewan, kaum perempuan anggota DPR RI masih sungkan melakukan interupsi untuk menyampaikan pandangannya,” kata salah seorang peneliti dari WRI, Rahayuningtyas ketika mempresentasikan hasil survei WRI pada seminar “Perempuan dan Pembuatan Kebijakan di DPR RI“, di Jakarta.

Rahayuningtyas menjelaskan, survei dilakukan terhadap 160 responden, yakni anggota Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPP RI) serta anggota Komisi II dan Komisi VIII DPR RI, pada periode 12 Maret hingga 20 April 2012. Pada periode tersebut dari 160 kuisioner yang disebarkan kepada responden yang menjawab seluruh pertanyaan dan mengembalikan kuisioner sebanyak 36 responden (22,5 persen).

Rahayuningtyas menjelaskan, dari hasil survei tersebut anggota DPR RI perempuan cukup rajin menghadiri rapat-rapat, baik rapat paripurna, rapat komisi, maupun rapat pada alat kelengkapan dewan lainnya. Namun tingkat keaktifan untuk menyampaikan pendapat dan argumentasi dari anggota DPR RI perempuan masih rendah yakni baru 20 persen yang aktif.

Anggota DPR RI perempuan yang terlibat pada proses lobi-lobi antarfraksi, juga masih rendah, yakni 22 persen. Sedangkan aktivitas anggota DPR RI perempuan berdasarkan fraksi, dari Fraksi PDI Perjuangan sebanyak 30 persen, Fraksi Partai Golkar (24 persen), Fraksi Partai Demokrat (18 persen), Fraksi Gerindra (8 persen), dan Fraksi Hanura (6 persen).

Kendala yang dihadapi anggota DPR RI perempuan, antara lain, karena masih ada yang merasa kurang percaya diri dan merasa kurang menguasai persoalan pada komisi yang ditempatinya.

Sumber: suarapembaruan.com, hanura.com, menegpp.go.id

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Renungan Hari Minggu Biasa XIII/C bersama Pastor Bill Grimm
  2. 60 pengungsi Korea Utara dibaptis di Gereja Katolik Seoul
  3. Keuskupan Agung Semarang prioritaskan penyandang cacat
  4. Siapkan menu sahur, puasa pasangan beda agama
  5. LSM internasional desak PBB selesaikan pelanggaran HAM Papua
  6. Lokakarya Beijing ‘mendidik’ para rohaniwan Katolik
  7. Tahun Kerahiman, kesempatan pengampunan dan pembaharuan rohani bagi umat Katolik Pakistan
  8. Polisi secara brutal menyerang dan menyeret umat Katolik yang sedang berdoa
  9. Umat Kristiani Banglades berdoa bagi perdamaian
  10. Korupsi ancam eksistensi Pancasila
  1. Upaya menjalin persahabatan tentu baik dan yang mengacaukannya, salah. Namun, a...
    Said Jenny Marisa on 2016-06-21 10:44:28
  2. Romo Magnis mengatakan terus terang, yang mungkin tidak enak didengar....
    Said Jenny Marisa on 2016-06-21 08:07:15
  3. Ini baru bisa mengatakan selamat berbuka puasa, karena tidak ada yang mengusik.....
    Said Jenny Marisa on 2016-06-15 12:22:52
  4. Membuat UU tidak bisa baik karena niatnya sudah tidak adil Legislator bergelar ...
    Said Jenny Marisa on 2016-06-10 09:15:14
  5. Merawat orang sakit jiwa menakutkan dan sangat tidak mudah. Obat2an tentu tidak...
    Said Jenny Marisa on 2016-06-09 15:19:50
  6. Apa yang terjadi sudah tercatat dalam sejaran Tiongkok kan? Tidak dapat disembu...
    Said Jenny Marisa on 2016-06-07 13:03:09
  7. Kagum bagi yang "diam diam, kerja banyak" daripada "ramai ramai demo,tak hasilka...
    Said Jenny Marisa on 2016-06-06 15:15:38
  8. Melihat gundukan sampah di Bantargebang rasanya mau angkat tangan. Jutaan orang ...
    Said Jenny Marisa on 2016-06-03 20:20:38
  9. Kagum atas kerelaannya.. sambil juga rasa prihatin.....
    Said Jenny Marisa on 2016-06-03 10:06:08
  10. Yang memberi Ijin biasanya para politikus busuk yg mencari keuntunga pribadi dan...
    Said Eduardus on 2016-06-02 13:46:02
UCAN India Books Online