UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Directory | A service of UCA News

Kabut membayangi proses penuntasan peristiwa Semanggi I

15/11/2012

Kabut membayangi proses penuntasan peristiwa Semanggi I thumbnail

 

Tahun 1998 saat era reformasi dimulai, menjadi momen sejarah berharga bagi bangsa Indonesia karena bebas dari pemerintahan orde baru di bawah Soeharto, pemimpin otoriter yang berkuasa selama 32 tahun.

Namun, perjuangan menuju era reformasi itu harus dibayar mahal oleh darah sejumlah mahasiswa dan korban lain yang tewas tertembak aparat keamanan saat berunjuk rasa menuntut pembebasan bangsa dari sisa-sisa pengaruh orde baru.

Bernardus Realino Norma Irmawan, mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta adalah salah satu korban yang tewas ditembak di halaman parkir kampusnya pada 13 November 1998 dalam peristiwa yang disebut “Tragedi Semanggi I”.

Kejadian 14 tahun lalu itu menyisahkan duka mendalam bagi orangtuanya, yang hingga kini masih menunggu upaya pemerintah untuk mengadili pelaku penembakan saat itu.

Pada April 2002, Komnas HAM telah menyimpulkan bahwa dalam Tragedi Semanggi I telah terjadi pelanggaran HAM berat.

“Dan, saat itu pula, laporan kasus ini telah diserahkan kepada Kejaksaan Agung, namun sampai saat ini belum ditindaklanjuti”, kata Arief Priyadi, ayah Wawan,  Selasa (13/11)  lalu di Kampus Atma Jaya.

Tragedi Semanggi I meletus saat pemerintahan transisi Indonesia mengadakan sidang Istimewa untuk menentukan Pemilu berikutnya dan membahas agenda-agenda pemerintahan yang akan dilakukan. Melihat pemerintahan transisi itu dipimpin oleh mantan Wapres Soeharto, yaitu BJ Habbibie, mahasiswa marah. Habibie dianggap tidak memiliki legitimasi rakyat untuk memimpin jalannya pemerintahan transisi.

Sidang Istimewa 1998 ditolak. Demonstrasi di jalan-jalan di Jakarta setiap hari diikuti oleh ribuan warga dan mahasiswa. Rentetan bentrokan antara aparat dan mahasiswa serta rakyat mencapai puncak pada 11-13 November 1998.

Menuru catatan Tim Relawan Untuk Kemanusiaan, selama kerusuhan tersebut, 17 orang meninggal, terdiri dari 6 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, 2 pelajar SMA, 2 anggota aparat keamanan dari POLRI, 1 satpam, 4 anggota pam swakarsa, dan 3 warga masyarakat.

Sementara 456 korban mengalami luka-luka, sebagian besar akibat tembakan senjata api dan pukulan benda keras, meliputi mahasiswa, pelajar, wartawan, aparat keamanan, dan anggota masyarakat lainnya dari berbagai latar belakang dan usia, termasuk Ayu Ratna Sari, seorang anak kecil berusia 6 tahun, yang terkena peluru nyasar di kepala.

Sebagai upaya mencari solusi atas masalah ini, pada Mei 2011 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah membentuk Tim Kecil Penanganan Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu yang dipimpin Menteri Kordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam).

Namun,  tim ini belum membuahkan hasil, meski pada November 2011, keluarga korban kembali mendesak tim itu untuk memberikan rekomendasi kepada Presiden agar menginstruksikan Jaksa Agung memulai penyidikan, berdasarkan temuan Komnas HAM.

Ignasius Indro, salah satu peserta demonstrasi kala itu, mengatakan serangan aparat keamanan yang membabi buta telah membuat suasana begitu mencekam.

“Malahan menurut perkiraan saya, korban yang tewas bisa mencapai puluhan orang”, katanya.

Ia menambahkan, sebenarnya tidak ada alasan lagi untuk mengulur-ulur waktu penyidikan terhadap peristiwa tersebut.

Aktivis Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Muhamad Daud, menilai mandegnya upaya pengusutan kasus ini menunjukkan tidak adanya komitmen pemerintah yang serius.

Selain itu, kata dia, Kejaksaan Agung terlalu permisif dalam menuntaskan kasus tersebut.

“Seharusnya Jaksa Agung tanpa ada desakan lainnya sesuai dengan hukum sudah mulai melakukan proses penyidikan. Tetapi kenyataan berbeda dengan yang terjadi. Ini membuktikan satu fenomena bahwa memang Kejaksaan Agung kebal tehadap hukum, Jaksa Agung ingkar terhadap hukum. Jadi, solusinya butuh keberanian dari seorang presiden”.

Terlebih lagi, menurutnya, Jaksa Agung merupakan bawahan Presiden.

Daud mengatakan orang yang terlibat dalam tragedi tersebut justeru saat ini mendapat sejumlah posisi strategis di pemerintahan.

Sampai sekarang, setiap hari Kamis, keluarga korban dan aktivis HAM terus setia mendatangi istana presiden, memakai pakaian hitam, berharap, kabut yang masih membayangi proses penuntasan kejahatan masa lalu, segera berlalu.

Ibunda Wawan, Katharina Sumarsih, ketika ditemui di depan istana beberapa waktu lalu, mengatakan, “Saya akan tetap datang ke sini, sampai negara ini mengadili para pelaku penembakan anak saya dan korban lain”.

Ryan Dagur, Jakarta

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Puluhan orang terluka dalam upaya menghentikan pembongkaran gereja
  2. Mengenal agama Baha'i yang sedang dikaji pemerintah Indonesia
  3. Paus Fransiskus akan makan siang bersama dengan 20 orang muda Katolik Asia
  4. Lebaran, para biarawati bersilaturahim dengan Jokowi
  5. Jokowi-JK diingatkan soal kelompok a-nasional
  6. Jokowi menangi Pilpres 2014
  7. Paus Fransiskus: "Tolong berhenti, saya minta Anda dengan sepenuh hati"
  8. Kebebasan beragama harus menjadi prioritas presiden terpilih Jokowi
  9. Kelompok masyarakat sipil dukung penetapan Pilpres oleh KPU
  10. Presiden terpilih didesak agar tetap pegang janji terkait HAM
  1. Puluhan orang terluka dalam upaya menghentikan pembongkaran gereja
  2. Paus Fransiskus: “Tolong berhenti, saya minta Anda dengan sepenuh hati”
  3. Lebaran, para biarawati bersilaturahim dengan Jokowi
  4. Kebebasan beragama harus menjadi prioritas presiden terpilih Jokowi
  5. Renungan hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  6. Wanita Sudan yang nyaris dieksekusi karena pindah agama bertemu Paus Fransiskus
  7. Paus Fransiskus akan makan siang bersama dengan 20 orang muda Katolik Asia
  8. Komunitas Sant’Egidio refleksikan pelayanan mereka bersama uskup, imam dan suster
  9. ISIS mengejar orang Kristen yang melarikan diri dari Mosul
  10. Jokowi-JK diingatkan soal kelompok a-nasional
  1. How can the state prohibits the use of Allah word, whereas the word is universal...
    Said y3 on 2014-07-14 14:51:00
  2. Good news. I have been in South Korea and several time attended Misa in Myongdon...
    Said y3 on 2014-07-14 14:40:00
  3. Tks Romo Uskup tercinta...
    Said Y3 on 2014-07-10 07:31:00
  4. very cool monsinyur...
    Said Y3 on 2014-07-10 07:23:00
  5. Aku ingin komentar namun diluar topik yang seenarnya. Namun ini menggangu pikira...
    Said Yohannes on 2014-07-08 17:53:00
  6. Kira2 FPI dan Kader PDIP garang yang mana ya.....kalo FPI yg diswiping tempat2 m...
    Said Wanto on 2014-07-05 18:19:00
  7. Amin...
    Said Cahya Nugroho on 2014-07-03 16:35:00
  8. Ini versi yang lebih lengkap dari pada yang sudah-sudah saya baca di media OL la...
    Said Dwi Prass on 2014-07-02 19:46:00
  9. sistem pemimpin dunia ini sudah akan berakhir. maka semua yg terjadi memang har...
    Said jojo on 2014-06-30 15:08:00
  10. Good article...
    Said yebambang on 2014-06-27 05:05:00
UCAN India Books Online